Trapped in Choi’s Charm (chapter 14)


poster chapt 14

 

 

 

AN       : mian baru muncul lagi kisah ini, saya membutuhkan waktu sangat lama buat menyusun kisah ini, jangan tanya kenapa, karna saya sendiri juga ga tau..makasih banyak buat Keanya ^^ kamu ngasih aku semangat sederhana yang bikin aku terpacu buat ngelanjutin semua kisah yang aku buat.. makasih banyak dear, sini aku cium :* yasudah kalau begitu.. selamat membaca ^_^

 

 

 

****

 

 

 

# Previous Chapt

 

 

 

“Apa ini?!” tanya Siwon mendesak dengan tatapan butuh penjelasan kepada Park Jungsoo.

“surat pemindahan tuan Choi Minho pada cabang Choi Group di Shanghai, Presdir”

“apa maksudmu?! Kenapa bisa Minho yang dipindahkan?! Bukankah sudah kubilang untuk tidak mengusik kedudukan Choi Minho saat ini”

“ne Presdir, tapi tuan Choi Minho sendiri yang menawarkan diri untuk menggantikan posisi tuan Lee Donghae di Shanghai, tadi pagi pihak HRD langsung menghubungi saya dan menyerahkan surat itu”

“Choi Minho minta dipindahkan ke Shanghai??!!”

 

 

 

****

 

 

 

Please forgive and forget me –Kim Raya–

 

 

 

-Trapped in Choi’s Charm-

 

 

 

Untuk kesekian kalinya Raya melihat Franck Muller yang melingkar indah dilengan kirinya, penanda waktu bermaterial titanium yang dihiasi rangkaian swarovski itu menunjukkan kalau hari semakin beranjak tengah malam. Berbanding lurus dengan pertambahan waktu di tiap detiknya, perasaan gusar dan gelisah yang dirasakan Kim Raya pun ikut bertambah.

 

Saat ini Kim Raya tengah berada di salah satu penthouse apartment di kawasan Gangseo-gu, daerah pinggir kota Seoul, penthouse apartment mewah atas nama Choi Minho yang merupakan saksi bisu hubungan gelap yang dijalin Kim Raya dan Choi Minho. Ditempat inilah, Kim Raya dan Choi Minho biasa menghabiskan waktu bersama.

 

Dan saat ini Kim Raya juga tengah menunggu kabar dari pria bermarga Choi itu, pasalnya sejak siang tadi setelah Kim Raya mendengar kabar kepindahan Choi Minho ke Shanghai dari Park Jungsoo, Sekretaris Choi Siwon, entah mengapa Raya merasa hatinya gelisah tak menentu, yang dia perlukan saat ini adalah bertemu dan berbicara langsung pada Choi Minho, namun sayang sejak siang tadi pria itu bahkan tak bisa Raya hubungi. Minho benar-benar menjauhinya, Minho menolak bentuk komunikasi apapun yang coba Raya lakukan sejak siang tadi, pria itu tak mengangkat sambungan telepon yang dilakukan Kim Raya ataupun membalas puluhan pesan yang dikirimkan wanita itu.

 

Saat ini Raya benar-benar kehilangan pikiran jernihnya, semua perhatian dan fokusnya hanya tertuju pada sosok Choi Minho, dia bahkan melupakan fakta kekesalannya pada mantan wanita simpanan tunangannya, Nam Auri, yang siang tadi terlihat dikantor tunangannya. Yang benar-benar Raya inginkan saat ini adalah segera bertemu dan berbicara dengan Minho sebelum Minho berangkat ke Shanghai esok hari.

 

Raya sangat tau, saat ini Minho pasti tengah sangat terluka akan semua yang terjadi semalam, pesta pertunangan yang tiba-tiba dan keputusan Kim Raya yang tetap memilih berada disamping Choi Siwon membuat Minho menjadi korban paling parah akibat keserakahan Kim Raya.

 

Tapi, apakah Minho tak mengerti bahwa Raya juga ikut terluka dan menderita akan keputusan tiba-tiba yang dia ambil semalam. Yang saat ini ingin Raya lakukan hanyalah berbicara dengan Choi Minho, meminta maaf dan menjelaskan semuanya, walaupun Raya tau tak ada yang perlu dijelaskan lagi dari keputusannya yang memilih berbalik kembali pada Choi Siwon.

 

Raya sangat mengerti jika saat ini Minho tengah terluka, tapi nyatanya Raya juga ikut mengalami luka yang sama, perasaannya ikut hancur ketika harus melihat Minho, salah satu pria yang dia cintai, menatapnya lirih dan memintanya tetap bertahan disisi pria itu. Raya merasa sakit yang sama dengan yang saat ini Minho rasakan.

 

“hhhhh…” hembusan nafas kuat terdengar dari mulut Kim Raya, Raya mencoba meloloskan udara yang sejak tadi menghimpitnya, mencoba melepaskan kesesakan yang sejak tadi menguasai hatinya, kesesakkan akan rasa bersalahnya yang teramat dalam karena telah melukai pria yang dia cintai.

 

Kini Raya memilih bangkit dari duduknya, berjalan mendekati kaca besar yang menampilkan pemandangan Seoul di malam hari dari lantai 20. Suasana malam kota Seoul yang dihiasi taburan lampu seperti bola-bola kristal tak berhasil mensugesti dirinya untuk merasa lebih baik.

 

Embun yang menghiasi jendela apartment menandakan kalau udara cukup dingin diluar sana, mengingat kalau saat ini merupakan akhir musim gugur dan mulai memasuki musim dingin, berbanding terbalik dengan suasana hangat yang berada disekitar Raya saat ini, tapi sayangnya Raya benar-benar tak mampu merasakan kehangatan yang menyelimutinya, hatinya justru merasa dingin dan hampa.

 

Perlahan Kim Raya menarik pandangannya, menatap pantulan samar dirinya dari jendela besar apartment yang menutupi hampir seluruh bagian barat ruang tamu apartment. Raya memperhatikan sosok pantulannya, wanita dewasa dengan balutan dress selutut berbahan satin, walau dalam kesamaran, wajahnya tetap terlihat cantik dengan sapuan make up natural Marc Jacobs Beauty, rambutnya yang coklat bergelombang bertumpuk dipundak sebelah kiri.

 

Wajah cantiknya memang tampak samar, tapi raut kegusaran tetap terlihat sangat jelas, bibir penuhnya juga mulai kehilangan warna dan pucat, hidungnya yang kecil berwarna sedikit kemerahan terlihat begitu mendominasi wajahnya, terakhir Raya menyisakan matanya, mata bulat indah yang biasanya di isi oleh sebuah binar namun kini terlihat sendu dan menyedihkan.

 

Raya menaik-turunkan arah pandangannya, memindai lebih detail sosok samar bayangan dirinya yang terlihat seolah-olah ikut menatapnya balik, “kau terlihat menyedihkan, wanita kejam!” lirih Raya masih tetap menatap sosok bayangan dirinya, “bagaimana bisa kau menginginkan semuanya menjadi milikmu? Kau wanita serakah” Raya menarik nafasnya lebih dalam, menahan himpitan perasaan sesak yang memang sejak tadi sudah menguasainya, “kini kau justru melukai orang yang mencintaimu, kau menyakitinya teramat dalam, sebenarnya apa yang kau inginkan?”

 

Drttt… drttt… drttt…

 

Proses monolog Kim Raya terpotong oleh getar ponsel yang terletak di atas meja, Raya bergegas meraih ponsel tipisnya, harapannya hanya satu, bahwa orang yang tengah menghubunginya saat ini adalah pria yang dia tunggu-tunggu sejak tadi. Dan nasib baik seolah tengah berpihak padanya, mata bulat Kim Raya berbinar bahagia dan senyum menghiasi bibirnya begitu melihat sebuah nama yang dia tunggu-tunggu terpampang dilayar ponselnya.

 

“yeoboseo, Minho-ya” ucap Raya cepat dan tak sabar pada sosok di seberang sana.

 

“…”

 

“Minho-ya?!” Raya berucap panik begitu tak mendapati jawaban dari sapaan pertamanya.

 

“…”

 

“Choi Minho?!”

 

“Nuna-ya~” seperti padang tandus yang disiram hujan, perasaan lega langsung menghinggapi Kim Raya begitu mendengar suara dari pria yang membuatnya kalang kabut hampir seharian ini

 

“Minho-ya, kau dimana eo?” Suara Kim Raya terdengar bergetar, Raya tak mengerti apa yang sedang mengusai hatinya saat ini, Raya merasakan matanya memanas dan dia begitu ingin menangis begitu mendengar Minho memanggilnya.

 

“waeyo?” suara Minho terdengar pelan dan dalam.

 

“Hya, Kau dimana? Bukankah sudah kubilang aku menunggumu di apartment, aku sudah menunggumu seharian ini, sebenarnya kau dimana hm?” Raya menutup mulutnya, mencoba menahan isakan yang sudah mati-matian dia tahan sejak tadi walau matanya mulai basah dengan airmata.

 

“wae? Kenapa kau masih disana? Kenapa kau masih menungguku? Seharusnya kau pergi, aku tak mau kau menungguku Nuna” suara Minho terdengar melirih.

 

“Minho-ya, kumohon… aku ingin berbicara denganmu, ada yang perlu kita bicarakan, kumohon datanglah Minho-ya”

 

“wae?? Tak ada yang perlu dibicarakan lagi, bukankah semuanya sudah sangat jelas” Raya kembali menutup mulutnya, menahan isakan yang semakin tak mampu dia tahan mendengar suara lemah putus asa Choi Minho.

 

“mianhae Minho-ya… Jeongmal Mianhae… hiks” suara isakan lolos dari mulut Kim Raya.

 

“wae? Kau menangis, eo? Kenapa kau menangis Nuna? Bukankah harusnya kau sedang berbahagia saat ini, bahagia berada dalam pelukan hangat tunanganmu” suara Minho semakin terdengar lirih dan dalam.

 

“Minho-ya~”

 

“apa kau sedang menangisiku? Menangisi kemalanganku, eo?” Raya semakin tak mampu menahan linangan airmatanya mendengar suara dalam Choi Minho yang terdengar menyakitkan.

 

“Minho-ya~”

 

“saranghae Nuna.. jeongmal saranghae (e’)” Raya semakin menangis lirih mendengar pengakuan cinta Choi Minho yang kali ini terdengar begitu dalam dan menyayat hati. Raya tak mampu lagi menyembunyikan luka dan isakkannya.

 

“kumohon Minho-ya (hiks) kumohon… datanglah, aku menunggumu emm..” pinta Raya penuh harap.

 

“ani” suara Minho meninggi, “aku tak akan datang (e’), jika kau ingin menemuiku, kita bertemu diluar, kita tunjukkan pada dunia bahwa kita saling mencintai dan akan selalu bersama (e’)”

 

“Minho-ya” Raya mengeluarkan protes lemahnya, namun kemudian Raya menyadari ada yang aneh dengan ucapan melantur dan nada bicara Choi Minho, “apakah kau sedang mabuk, eo??”

 

“ani, siapa yang mabuk (e’)” suara sanggahan Choi Minho justru semakin terdengar seperti orang mabuk berat ditelinga Kim Raya.

 

“dimana kau sekarang?” tanya Raya tak sabar begitu menyadari kondisi kewarasan Choi Minho yang sepertinya sudah di ambang batas.

 

“wae? Nuna ingin menemuiku? Kau ingin kembali padaku Nuna? (e’)”

 

“Minho-ya, katakan kau dimana sekarang?” ulang Raya perlahan sambil menghapus cepat airmatanya.

 

“aniya(e’) aku tak akan mengatakannya (e’) aku tak ingin bertemu denganmu (e’)”

 

Brukkk…

 

“Choi Minho!” suara benturan keras yang terdengar membuat Kim Raya berteriak kaget, “Minho-ya… Minho-ya… yeoboseo… Choi Minho?!” panggilan panik Kim Raya sama sekali tak mendapat jawaban, Raya melihat layar ponselnya cepat, “Yeoboseo.. yeoboseo.. Choi Minho!!” panik Raya kembali begitu mengetahui bahwa sambungan teleponnya belum terputus.

 

“Yeoboseo” suara berat seorang laki-laki asing terdengar di telinga Kim Raya.

 

“Yeoboseo… Choi Minho??”

 

“maaf agasshi, apakah anda mengenal tuan Choi Minho?”

 

“ne, saya kekasihnya” jawab Raya spontan karena diselimuti kepanikan, tanpa memikirkan akibat dari pengakuannya yang tiba-tiba.

 

“ah syukurlah kalau begitu, saat ini Tuan Choi Minho pingsan karena terlalu mabuk, bisakah anda datang ke tempat kami untuk menjemputnya?” Raya menghembuskan nafasnya pelan, hatinya terasa mencelos mendengar kabar Minho saat ini.

 

“ne, tentu saja, bisakah kau mengirimkan alamat dimana Minho berada saat ini?” pinta Raya lemah.

 

“ne, saya akan mengirimkan alamat Resto dan Bar kami pada anda agasshi”

 

“gomapseumnida, kalau boleh tau dengan siapa aku bicara?”

 

“saya Shin Donghee, salah satu bartender di tempat ini”

 

“terimakasih banyak Shin Donghee-ssi, aku akan segera kesana, maaf sudah merepotkanmu dan tolong jaga Minho untukku” pinta Raya penuh harap.

 

“ye, agasshi”

 

 

 

-Trapped in Choi’s Charm-

 

 

 

 

. . . . .

And maybe tomorrow

I’ll find what I’m after

I’ll throw off my sorrow

They’re still borrow

My share of laughter

 

With you I can learn to

With you on a new day

But who can I turn to

If you turn away

. . . . .

 

Iringan merdu dan syahdu lantunan Who Can I Turn To milik Tony Bennett mengiringi langkah Kim Raya memasuki sebuah Resto dan Bar mewah dikawasan Myeong-dong. Mungkin jika saat ini Raya sekedar datang untuk berkunjung, Raya akan dengan khusyuk mendengar salah satu lagu favoritenya yang tengah diputar, walaupun lagu itu sedikit mengusik perasaan terdalamnya, tapi tujuan utama Raya saat ini adalah menjemput Choi Minho, pria yang tengah menderita karena luka yang dia torehkan.

 

Tempat ini adalah salah satu Restoran dan Bar ekslusif terkenal yang biasa dikunjungi para eksekutif muda, yang Raya tau Minho memang sering menghabiskan waktu disini berkumpul bersama teman-temannya. Setelah ditunjukkan oleh seorang waiter, Raya berjalan cepat ke arah counter bar satu-satunya yang mengisi bagian kanan Resto dan Bar, “permisi” panggil Raya pada salah satu bartender yang berdiri membelakanginya di balik counter bar yang cukup tinggi, “saya ingin menjemput Choi Minho” jelas Raya begitu sang bartender melihat ke arahnya.

 

“anda?”

 

“saya Kim Raya”

 

“kekasih tuan Choi Minho?” tanya sang bartender heran.

 

“ye” jawab Raya mantap yang justru menimbulkan garis kerutan di kening lawan bicaranya.

 

“ah, joesonghamnida” ucap sang bartender cepat setelah tersadar dari lamunan singkatnya, “saya Shin Donghee, orang yang berbicara dengan anda di telepon tadi” Raya mengangguk mengerti, “mari ikut saya, kami memindahkan tuan Choi ke ruangan private-nya”

 

Dengan mantap Raya mengikuti langkah kaki bartender bertubuh gempal itu ke deretan private room yang berada di sisi kiri Bar. “silahkan masuk Agasshi” sambil membuka pintu, bartender bernama Shin Donghee itu mempersilahkan Kim Raya lebih dulu memasuki ruangan persegi kira-kira berukuran 6×6 meter.

 

Hati Kim Raya benar-benar berantakan begitu melihat pemandangan Choi Minho yang tertidur lelap di atas sofa dengan setelan formal berantakan dan bau alcohol yang begitu menyengat indera penciuman. Dengan langkah lemah dan perlahan Raya mendekati sosok Minho kemudian mendudukan diri disamping pria itu.

 

Airmata Kim Raya hampir jatuh melihat pria yang masih dia cintai berada dalam kondisi yang sangat berantakan. Tanpa dikomando jemari Kim Raya terangkat membelai lembut wajah polos Choi Minho yang tengah terlelap dalam ketidaksadarannya.

 

“eunghh” lenguhan tanda terusik keluar dari mulut Choi minho.

 

“kenapa kau menjadi seperti ini hmm?” tanya Raya pelan pada sosok manusia yang dia tau tak akan menjawab pertanyaannya sama sekali.

 

Sambil terus menatap sendu wajah polos Minho yang sedang terlelap, Raya menghembuskan nafas tertahannya, relung hati terdalam Kim Raya benar-benar merasa sakit dan terusik, siapapun orang yang melihat kondisi Minho saat ini pasti tau jika pria itu tengah menahan luka dan sakit teramat dalam, dan yang membuat Raya lebih merasa sakit adalah bahwa dialah yang menjadi penyebab pria itu berada dalam kondisi terpuruknya saat ini.

 

“tak seperti biasanya, tuan Choi Minho datang sendirian ke Bar sore ini” suara dalam Shin Donghee, menarik Kim Raya dari lamunannya, sejenak tadi Raya sempat melupakan keberadaan sosok pria bertubuh gempal yang menunjukkan jalannya tadi.

 

“jam berapa dia datang ke tempat ini?” tanya Raya pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Minho dan tetap masih dengan tanggannya yang mengusap lembut wajah pria itu, menyalurkan kehangatan melalui sentuhannya yang selama ini sangat di rindukan Choi Minho, namun sayang pria itu justru mendapatkannya disaat dia tak sadarkan diri.

 

“tuan Minho sudah berada di bar sejak saya memulai shift saya pukul 7 malam tadi, dan beliau sudah terlihat cukup mabuk ketika saya menggantikan teman saya untuk men-servicenya” penjelasan mantap Shin Donghee semakin memukul jatuh Kim Raya.

 

Untuk beberapa saat Raya kembali dalam diamnya, “maukah kau membantuku tuan Shin” pinta Raya, “Myeong-dong Street sudah ditutup bagi pengendara, bisakah kau membantuku membawa Choi Minho, aku memakirkan mobilku di ujung jalan sana”

 

“tentu saja Agasshi”

 

Dengan mantap Shin Donghee membawa Choi Minho keluar dari salah satu ruangan private tempatnya bekerja. Shin Dong memapah Minho di bahu kirinya dibantu oleh Raya yang ikut memapah Minho dari sisi yang lain. Aktifitas yang dilakukan Shin Dong dan Raya sempat menarik perhatian beberapa pengunjung Resto dan Bar yang tetap ramai walau waktu mulai memasuki tengah malam. Tanpa Raya sadari dari sisi counter bar ada seorang wanita yang kini tengah memperhatikan mereka dengan seksama dan pandangan heran.

 

“bukankah itu Choi Minho?” tanya sang wanita pada bartender yang sedang menuangkan Martini ke dalam cocktail glass-nya.

 

Sang bartender melihat ke arah yang ditunjuk oleh pelanggannya, ke arah rekan kerjanya dan seorang wanita yang tangah memapah keluar seorang pria yang terlihat tengah mabuk berat, “benar, itu tuan Choi Minho”

 

“siapa wanita yang bersamanya?”

 

“saya dengar itu kekasihnya”

 

“kekasih?” sang wanita bertanya heran.

 

“wanita itu sendiri yang bilang begitu tadi, kalau tak salah namanya Kim Raya”

 

“Kim Raya??” sang wanita semakin bergurat heran, “bukankah dia tunangan Choi Siwon?!”

 

 

-Trapped in Choi’s Charm-

 

 

 

Shin Donghee membantu Kim Raya memapah Minho ke mobil pribadinya, kondisi jalan Myeong-dong yang di khususkan bagi pejalan kaki pada malam hari mengharuskan Raya memakirkan Corvette-nya di ujung jalan cukup jauh dari Resto dan Bar tempat Minho tadi.

 

Sambil terus membantu Minho berjalan dalam ketidaksadarannya, Raya tak pernah menyadari bahwa ada seorang laki-laki bertubuh sedikit pendek dan tegap yang sudah mengikuti Kim Raya dari dia mulai meninggalkan kantor tunangannya, laki-laki itu mengikuti Kim Raya sambil terus membidikkan kamera tangannya diam-diam, mengabadikan setiap hal yang dilakukan Raya sejak siang tadi hingga hampir tengah malam saat ini.

 

“terimakasih banyak Shin Donghee-ssi” ucap Raya tulus setelah memasang sabuk pengaman pada tubuh Choi Minho kemudian menutup convertible door di samping kursi pria itu.

 

“sama-sama Agasshi, saya senang bisa membantu anda”

 

“sekali lagi terima kasih banyak tuan Shin, selamat malam” setelah memberikan tip cukup besar, Raya melangkahkan kakinya kearah pintu pengemudi.

 

“berkendaralah dengan hati-hati Agasshi, selamat malam” Shin Dong berujar penuh senyum sambil melambaikan tangannya mengiringi kepergian mobil sport berwarna hitam milik Kim Raya. Sampai Corvette milik Kim Raya hilang di persimpangan jalan, Shin Dong masih terdiam ditempatnya, “Kim Raya” Shin Dong tampak berpikir, “bukankah dia calon istri Choi Siwon?”

 

 

 

-Trapped in Choi’s Charm-

 

 

 

Sambil membasuh lengan Choi Minho dengan washlap yang basah oleh air hangat, tatapan Raya tak pernah berpaling sedikit pun dari wajah polos Minho yang sedang terlelap. Tak bisa dipungkiri perasaan perih dalam hatinya akibat melihat kondisi Minho yang kacau berantakan membuat Raya tak mampu bernafas dengan normal, sejak tadi perasaan sesak terus menguasainya.

 

Wanita mana yang sanggup menahan luka melihat pria yang dia cintai secara perlahan hancur karena ulah dan perbuatannya sendiri. Raya sangat mengerti jika selama menjalin hubungan bersama Choi Minho, Minho-lah yang lebih sering menanggung luka, menanggung luka akibat keserakahan Kim Raya karena ingin memiliki dua belahan jiwa dalam hidupnya.

 

Walaupun demikian, Minho tak pernah sedikitpun melancarkan protesnya, tak pernah sedikitpun Minho menunjukkan rasa sakit yang dia pendam seorang diri. Minho justru memperlakukannya dengan sangat baik, Minho begitu menjaganya, Minho mengenal setiap sisi Kim Raya yang bahkan Raya sendiri tak menyadarinya, Minho mencintai Raya dengan cara yang lain, cara yang membuat Raya merasa sempurna dan begitu membutuhkan Minho untuk terus bersamanya.

 

Dulu, Choi Minho-lah yang menemani Kim Raya melewati hari-hari terberatnya, Minho-lah yang berada disamping Kim Raya ketika Raya melewati hari-harinya laksana mayat hidup setelah mengetahui kekasih yang sangat dia cintai mengkhianatinya. Minho-lah yang menjadi penopangnya kala itu, hingga mereka tak sadar entah sejak kapan mereka saling melengkapi satu sama lain, mereka saling tergantung, Raya tak mampu jauh dari Minho begitupun sebaliknya.

 

Choi Minho-lah yang dengan teliti dan hati-hati membalut luka yang diciptakan Choi Siwon untuk Raya, Minho yang dengan kesabaran dan perhatiannya menyembuhkan luka bernanah itu, Minho juga yang membantu Kim Raya bangkit secara perlahan, Minho ada saat Raya membutuhkannya, Minho menjadi obat dan penghibur akan semua duka yang di alami Kim Raya.

 

Dulu Minho-lah yang menemukan Raya terpuruk sendirian di salah satu kota di dataran Itali, di mana Raya melarikan diri menyembunyikan lukanya seorang diri tanpa siapapun yang mengetahui apalagi menemani, menangisi luka yang ditorehkan bak pisau belati yang dihunuskan berulang kali oleh kekasihnya sendiri.

 

Kala itu Choi Minho dan Kim Raya bertemu hanya sebagai Minho dan Raya, mereka tak pernah mengetahui bahwa takdir menghubungkan mereka dengan satu orang yang sama.

 

Kala itu Minho ada untuk Raya dan Raya ada untuk Minho, dimana ada Minho pasti ada Raya. Hingga akhirnya mereka menjadi sangat dekat dan tak terpisahkan takdir justru menyingkap tabirnya, kenyataan bahwa Minho masih ada hubungan sepupu dengan Siwon membuat Raya dan Minho sama-sama terguncang, mereka tak menyangka ternyata takdir mengumpulkan mereka dalam lingkaran yang sama.

 

Namun kala itu Kim Raya dan Choi Minho sudah terlanjur tak dapat dipisahkan, Raya pun tak mampu meninggalkan Choi Siwon. Jika di ibaratkan Kim Raya seperti sebuah pohon, Siwon adalah udara bagi Kim Raya dan Minho adalah mataharinya, bagaimana Raya mampu hidup tanpa salah satu dari mereka.

 

Hingga akhirnya keputusan gila pun di ambil oleh keduanya, mereka -Choi Minho dan Kim Raya- memutuskan untuk terus bersama di belakang Choi Siwon, mereka menjalin hubungan rahasia tanpa diketahui oleh siapapun hingga beberapa hari kebelakang hubungan mereka terungkap oleh Lee Sungmin, adik tiri kakak Kim Raya, Kim Heechul.

 

Mengingat setiap kepahitan yang mereka lewati bersama serta rasa sakit dan luka yang berulang kali Raya ciptakan untuk Minho membuat setetes airmata jatuh dari mata bulat Kim Raya. Raya kembali menangis dalam diamnya, menangisi takdir yang menurutnya cukup kejam karena membuatnya terperangkap dalam cinta dua pria yang sama-sama dia cintai. Airmata Kim Raya menderas. Setelah ini, apakah dia mampu melewati hari-harinya yang penuh dengan rasa penyesalan karena melukai orang-orang yang mencintainya.

 

Ketika Raya sedang larut dalam dukanya, dia merasakan sebuah telapak tangan cukup besar menyentuh wajahnya, mengusap airmatanya yang sudah menganak sungai, “uljima, aku tak suka melihat Nuna menangis” ucap Minho sendu yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.

 

Kalimat penghibur Choi Minho justru membuat airmata Kim Raya semakin menderas, mengeluarkan semua perasaan lelah, sakit, letih, duka bahkan rasa bersalah yang Raya tahan sejak tadi. Minho yang juga mengerti akan semua perasaan yang sedang Kim Raya tanggung saat ini mencoba mendudukan dirinya, menghalau perasaan pusing yang seperti ribuan jarum menusuk kepalanya akibat bergelas-gelas alcohol yang dia minum beberapa jam yang lalu, kemudian dengan sigap menarik tubuh Kim Raya tenggelam dalam pelukannya.

 

Tindakan yang dilakukan Minho justru membuat Raya mengeluarkan tangis lirihnya, Raya terisak dalam pelukan pria yang hingga detik ini masih dia cintai, isakkan yang justru ikut menimbulkan rasa sakit yang amat nyata di dalam hati Choi Minho. Isakkan lirih penuh putus asa Kim Raya menjadi penghantar Minho mengeluarkan airmatanya, Minho ikut menangis sambil menenggelamkan wajahnya pada pundak wanita yang sangat dia cintai.

 

Tubuh mereka berdua saling berguncang, mengeluarkan isakan lirih penuh segala rasa derita dan frustasi bagi siapapun yang mendengarnya. Menyalurkan berbagai macam rasa membingungkan dan putus asa yang saat ini mereka tanggung.

 

“mianhae.. hiks… hiks… jeongmal Mianhae hiks… hiks… hiks… ” Raya mengeluarkan suara dalam sedu sedannya, menambah beban luka menyayat dalam hati Choi Minho.

 

Dengan lembut Minho menarik wajah Kim Raya dengan kedua tangannya, memperhatikan dengan seksama wajah kemerahan penuh rasa luka dan airmata wanita yang paling dia cintai. Raya pun ikut memandang dalam wajah penuh kesakitan Minho.

 

Mereka berdua sama-sama mendalami wajah dihadapannya, wajah orang yang mereka cintai walau sering melukai. Wajah yang mampukah mereka bertahan tanpa melihatnya. Wajah yang menjadi sumber bahagia sekaligus sumber kesakitan bagi mereka. Wajah yang masih mereka ingin genggam dan miliki untuk selamanya.

 

Entah siapa yang memulai lebih dulu, wajah mereka mendekat, kedua bibir mereka sudah bertemu saling bertaut, menyalurkan rasa kesakitan dan frustasi antar keduanya. Pertautan antara kedua bibir mereka terasa begitu basah karena terus diiringin airmata. Hingga akhirnya cumbuan yang awalnya terasa lembut sarat akan kesakitan berubah menjadi cepat dan mendesak. Mereka melepaskan semua perasaan sakit dan tersiksa yang mereka rasakan melalui cumbuan penuh kekalutan.

 

 

 

-Trapped in Choi’s Charm-

 

 

 

 

Minho terus mengusap lembut wajah wanita yang kini tengah terbaring dalam dekapannya, tangan yang satunya memeluk erat tubuh wanita yang juga tengah memeluknya. Sambil menghembuskan nafasnya berat, Minho mengeratkan dekapannya, memastikan bahwa malam ini wanita itu hanya miliknya, bukan milik orang lain, bukan milik siapa pun, biarkanlah dia menikmati kebersamaan yang mungkin akan menjadi kebersamaan mereka yang terakhir.

 

“kau baik-baik saja?”

 

“hanya sedikit pusing” jawab Minho sambil menundukkan kepalanya, memandang wajah pucat Kim Raya dengan senyum tipis di bibir.

 

“kenapa kau melakukan ini Minho-ya, kenapa kau menyiksa dirimu sendiri?” tanya Raya sendu sambil menyembunyikan wajahnya pada dada hangat milik Choi Minho, menghirup aroma tubuh pria yang masih dia cintai untuk dia ingat dan dia simpan sebagai bagian dari memori indahnya kelak.

 

“kau tau” Minho menyamankan posisi berbaring mereka, “jika kau bertanya padaku hal menakjubkan apa saja yang ku lalui selama aku hidup, maka jawabannya adalah setiap hal yang terjadi pada malam yang kulalui selama kurang lebih satu tahun kebelakang” Raya menautkan alisnya bingung mendengar jawaban Choi Minho yang tak sesuai dengan pertanyaannya.

 

“setiap malam dimana kau mulai menjadi bagian dari hidupku” Raya tertegun mendengar lanjutan pengakuan tak terduga Choi Minho, “setiap malam dimana kau mulai mengisi dan mewarnai hari-hariku, setiap malam yang kulalui dengan memikirkanmu. Dan diantara malam-malam itu, malam yang menjadi favorite ku adalah ketika kau menghabiskan waktu bersamaku” Minho menghembuskan nafasnya berat, “walaupun kita hanya sekedar berbincang hingga dini hari, tapi aku merasa saat itu kau adalah milikku seutuhnya” pandangan Minho menerawang, memutar kembali memori indah yang pernah dia habiskan bersama Kim Raya, wanita yang masih amat sangat dia cintai, “saat aku menciummu dan saat kau membalas ciumanku, saat kau menyentuh tubuhku, membuatku terus berpikir bahwa kau hanyalah milikku” airmata mulai kembali mengalir di wajah Kim Raya, mendengar semua pengakuan manis Minho menghantarkan sensasi perasaan sesak baru yang kembali melingkupi dadanya. Minho amat mencintainya, terlalu amat sangat mencintainya.

 

“setiap saat yang kuhabiskan bersamamu adalah saat-saat terindah yang pernah terjadi sepanjang hidupku, jauh di dalam hatiku aku begitu berharap untuk memiliki dirimu seutuhnya, selamanya” Raya kembali menyembunyikan wajahnya yang penuh airmata pada dada bidang Choi Minho, tak sanggup mendengar penuturan perasaan terdalam pria itu yang kembali menghancurkannya.

 

“tapi ternyata selama ini aku sudah terlalu banyak berharap, begitu tau ternyata kau lebih memilih kembali kepada Choi Siwon, seketika aku merasa hancur” airmata kepedihan mulai menggenangi mata sendu Choi Minho, “aku ibarat dijatuhkan dari dari ketinggian lima ribu kaki kedalam lembah penuh diri, hatiku luluh lantak” lirih Minho dengan airmata kembali berlinang, Raya sendiri sudah tak mampu menahan isakannya kembali mendengar pengakuan kesakitan pria yang mendekapnya semakin erat.

 

“seharian ini aku berharap bahwa yang terjadi semalam hanyalah sebuah mimpi, aku berharap bahwa kau atau siapapun membangunkanku dari mimpi buruk ini, tapi ketika aku kembali melihat cincin ini” Minho menarik tangan Raya yang memeluk tubuhnya, menggenggam tangan kiri Raya dimana sudah melingkar sebuah cincin bermata berlian dengan inisial R dan S pada jari manis wanita itu, “untuk kesekian kalinya aku merasa hancur”

 

Bahkan sisa airmata beberapa jam yang lalu belum kering tapi kini mata Choi Minho sudah kembali dibasahi oleh airmata. Kim Raya sendiri sudah tak mampu mengeluarkan suaranya, yang sanggup dia lakukan hanyalah menangis lirih dalam pelukan hangat Choi Minho.

 

“aku benar-benar tak sanggup untuk merelakanmu” Minho semakin berujar penuh kepahitan, “sungguh aku tak mampu mengatasi kepedihan hatiku untuk merelakanmu meninggalkanku” Minho kembali merengkuh wajah Kim Raya dengan kedua tangannya, “tak bisakah kita terus seperti ini, hmm?” pinta Minho penuh harap, “aku tak akan lagi menuntut kau untuk selalu bersamaku, aku tak akan memaksa kau untuk memilihku, asalkan kau ijinkan aku tetap terus berada di sisimu, melihatmu, bersamamu, itu sudah cukup” airmata semakin memburamkan pandangan Kim Raya mendengar permohonan penuh harap Choi Minho yang terasa begitu menyakitkan.

 

Raya benar-benar sudah tak tau apa yang harus dia katakan, apa yang harus dia lakukan. Raya hanya tak ingin membuat Minho semakin sekarat dan terluka parah jika semuanya terus berlanjut, Raya tak ingin membuat Minho menderita sendirian, dia tak ingin pria yang dia cintai hancur berantakan.

 

“maafkan aku Minho-ya… hiks… hiks… ku mohon maafkan aku… ku mohon… hiks… hiks… lupakanlah aku”

 

 

*to be continue*

 

 

 

 

 

 

Yang tau kisahku pasti tau alasan kenapa aku susah banget ngelanjutin part ini, kalian bisa liat sendiri kenapa, ibarat membuka kenangan pahit yang mati-matian berusaha aku simpan… maaf ya kalau terasa berantakan dan ga ngena feelnya, makasih banyak untuk yang tetep setia nungguin lanjutan kisah ini :*

dan makasih banyak buat lagu LULUHnya SAMSONS yang bikin aku kembali menangis 😥

 

sampai ketemu lagi *bow

Advertisements

41 thoughts on “Trapped in Choi’s Charm (chapter 14)

  1. Ya ampun~~ ngga tega jadinya kesian Minho… 😦
    pasti Raya nyesek bnget tuh Minho bkalan pergi.. Kaka klo nnti Minho pergi ntar Siwon jngan selingkuh lagi sma si nam auri itu ya :3
    Next part ditunggu kaka cantik~~ 😀

  2. ya ampun nyesek bgtiiiiii… hanya bisa ngomong tu.. raya ngapa nyuruh minho melupakan’a

  3. Kasihan minho….Pantesan lama bnget sharex say,,,la wonk miris bnget ceritax apa lagi sampai kenangan pahit terbuka lagi,,,tambh down…Jd g semangat ngelanjutin,,,,

  4. errrrrrrerrrrerrrrrr …..
    benci part ini TT,TT kenapa ??
    aku juga gak tau …
    bacanya juga aku skip skip TTT,TTT
    Pas baca aku gak mikirin sakitnya minho ama raya tapi sakitnya siwon massaaa…
    pengennya minhO ama raya ,trus siwon ama wanita laeennn T,T

  5. hai–hai…
    aku baru kali ini mampir ke blog mu dan baca series ini. padahal udah sempet berkeliaran di sjff.
    salam kenal dan ijinkan aku berkelana disini ya hehehe….

    untuk koment fanfict ini, aku seneng sama bahasa dan alurnya deh. perseriesnya ga terlalu banyak kata tapi alur nya di perjelas. feel setiap partnya juga dapet.
    aku bahkan sampe ngerasa banget ke hati bacanya hehehe…

    kelanjutannya aku tunggu ya 🙂 semangat!

  6. ya ampun kalo baca part ini bener” nyesek bgtt, kasian sama raya dan minho, penasaran gmna reaksi siwon kalo tau raya sama minho??
    ditunggu eon part selanjunya

  7. Part ini nyesek bgt ㅠㅠ
    Kasian sama Minho 😦 tp aku ttp berharap Raya kembali sm Siwon hehehe…

    Part selanjutnya di tunggu 😀

  8. dr kmren wktu bru share sbnernya wktu mau baca itu beraat bgt .. soalnya gmna ya ?? kyanya aq dah tau klo ujungnya bkl nyesek aplgi aq kn aku lbh ska psngan minho-raya … tp ttep aj kepo jdi ya ttep aku bca PASTI 🙂
    aku sii pengennya cpet kebongkar smua ya,ga cma selingkuhnya minho sm raya aja tapi jg selingkuhnya siwon jg … biar adil hehe ote 😀
    oke ttep smngat lanjutin ya , aq sllu pngen bca trus tlisan kmu 🙂 Hwaithing

  9. Astaga kakak maaf kan dedek mu ini aku baru sempet baca hari ini dan diri mu sukses bikin aku nyesek. udah sini Mino nya buat aku aja kasian banget huhuhu… belum lagi siwon astaga guling guling ni aku bacanya huaaaa
    geregetan baccanya … cepetan cepetan di lanjutin … kalo engak demo ni :v

  10. Nyesek.
    Kalo bisa aku mau masuk ke kehidupan mereka.
    Bilang ke siwon sama raya kalo mereka samasama selingkuh.
    Terus aku mau bilang “sekarang mau gimana? mau lanjut atau buka cincin aja?”
    Heu…… aku emosinyaa udah kaya es campur.
    Aku maunya raya tetep sama siwon.
    Walaubagaimanapun ketakutan raya untuk kehilangan minho itu semacam
    ‘kehilangan kehilangan orang yang ngerti dia’. Jadi dia sama Minho karna sebuah alasan.
    Klo sama siwon kan g ada alasan apapun. tapi dia tetep cinta. /kata2apasiini/.
    Hadoooooh…… heu……

    • kkk~ :v

      emm.. gitu ya menurut kamu, kalo aku sih niatnya pengen ngegambarin kalo Raya takut kehilangan orang yang dia butuhkan.. kalo Siwon, orang yang tanpanya Raya ga mampu hidup… begitu kira-kira ^^

      btw makasih ya udah baca 😀

      • Hehe, aku bilang gitu soalnya aku maunya ahirnya sama siwon aja. G mau sama minho. Keke
        Oia, gitu y maksudnya.
        kirain aku raya itu takut kehilangan minho, takut kehilangan org yg ngerti dia, yg ada waktu siwon selingkuh.
        (Abaikan).
        Aku suka semua ff disini.
        Keep writing.

      • sama siapa oeni hayoo?
        beneran bikin penasaran tau… hehe
        masih banyak, berarti masih panjang?
        gpp gpp gpp. mau panjang bahkan bikin serial kaya sinetron tersanjung juga gpp.
        aku mau baca kok. hehe
        meskipun sebenernya pengen tau ujungnya cepet2, tapi g rela juga klo ff y tiba2 ada huruf END d akhir ceritanya. *apasi
        aku selalu nunggu, kok.
        KEEP WRITING ^_^

    • makasih loohhh…. ^_^
      sebenernya aku juga udah pengen kisah ini cepat2 berakhir, bosen juga nyusunnya :3
      tapi konfliknya harus selesai semuanya dulu, biar bener2 clear semuanya 😉

      • ahaha,
        udah bosen nyusunnya?
        aku sih gpp aja cerita ini berahir. soalnya pengen tau juga ujungnya gimana.
        asal oeni terus nulis dan bikin ff-ff lain. hehe.
        pokonya aku nunggu ff-ff oeni lah. hehe
        jadi, keep writing ya.

  11. tata bahasanya keren kak, aku suka..jalan ceritanya juga oke dan bikin nyesek serasa ikut masuk kedalamnya /apadeh

    next part ditunggu ya kak ^^

  12. gak tau knp yah aku mlh kasian sm siwon gak tega bgt di hianatin gitu mskpn dulu dia jg kek gitu. ntar kl Minho pergi Siwon sm Raya bs bener2 bersatu ya. aku sebenernya sdkt sebel sm karakternya Raya>_<

    • bukan cuma kamu doang kok yang sebel sama Raya, semua orang juga ga suka sama dia.. mungkin kalo karakter dia nyata, dia udah jadi sasaran tembak banyak orang kali ya hihihihi 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s