Forbidden Love


wookie

 

Author Notes               : hola, FF ini aku kirim buat ikut memeriahkan ulang tahunnya pria imut bermarga Kim di SUJUFF2010, tapi gak menang hehehe, yah maklumlah karena kisahnya cukup absurd. Kisah ini terinspirasi sama lagunya Taeyang yang ‘Wedding Dress’ udah gitu kisah ini aku bikin sambil nikmatin macetnya tol gatot subroto yang gak manusiawi *geleng-geleng, mohon maaf untuk jalan ceritanya yang absurd, okay let’s enjoy ^^

 

 

****

 

Akan kulakukan berbagai cara agar kau menjadi milikku. –Kim Ryeowook–

 

-forbidden love-

 

Seorang pria muda berjalan santai mendekati sebuah ruangan besar yang menjadi ruangan utama dilantai dia berpijak saat ini. Sebelum menuju ruangan itu, didapatinya seorang pria lain yang tengah sibuk dengan setumpuk perkerjaan yang terlihat tersusun rapi di atas meja.

 

“Hyung” panggil pria muda berwajah imut itu dengan gaya riangnya yang khas, “apa Choi Sajangnim sudah selesai dengan pekerjaannya?” tanya pria itu sambil mengarahkan pandangannya kearah pintu ek yang menjadi pembatas ruangan boss besarnya.

 

“sudah, tapi saat ini beliau sedang bersama kekasihnya didalam, kau ingin bertemu dengan Choi Sajang?” duga pria yang masih terlihat disibukkan dengan tumpukan berkas yang sedang dia periksa satu per satu.

 

“aniya” jawab pria muda itu cepat, “apakah kau masih membutuhkanku?” tanya pria itu lagi, memastikan masih adakah pekerjaan yang harus dia kerjakan.

 

“apakah semua pekerjaanmu sudah selesai?”

 

“tentu saja sudah, semuanya sudah kuselesaikan dengan baik” jawab pria itu yakin, “Kalau kau sudah tidak membutuhkanku lagi, boleh aku pamit lebih dulu, Hyung?” mohon pria itu pada sekretaris atasannya yang sudah dia anggap seperti kakak laki-lakinya sendiri.

 

“ini masih cukup sore, kau ada janji dengan seseorang?” tanya pria yang masih duduk dikursinya dengan nada curiga melihat ekspresi antusias dan tak sabar bermain di wajah pria muda dihadapannya.

 

“ne, Hyung” jawab pemuda itu malu-malu sambil mengusapkan sebelah tangannya pada daerah tengkuk untuk menyalurkan rasa gugupnya.

 

Sementara pria yang dimintai ijin hanya menatap penuh spekulasi pria muda yang terlihat seperti remaja yang sedang kasmaran dihadapannya.

 

“Hyukjae Hyung, kenapa kau malah memandangiku seperti itu?” tanya pria muda itu tak terima akan pandangan penuh arti dari pria yang dipanggil Hyukjae itu.

 

“aniya, pergilah” ijin pria yang disapa Hyukjae itu dengan rasa enggan.

 

“Gomawo Hyung, aku pergi dulu ne” jawab pria muda itu penuh senyum setelah mendapat ijin dari atasan sekaligus sahabatnya.

 

Namun sebelum pria muda itu benar-benar beranjak pergi, “Wookie-ya” panggil Hyukjae menghentikan pergerakan pria muda itu untuk undur diri.

 

“ne?”

 

“berhentilah” saran Hyukjae singkat yang membuat pria yang dipanggil Wookie itu terdiam tak mengerti, “berhentilah sebelum kau semakin terluka” lanjut Hyukjae dalam, mencoba mengingatkan pria yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya itu untuk menghentikan apapun yang akan dia lakukan yang justru akan membawanya pada luka yang semakin dalam.

 

Karena Hyukjae tau dengan pasti apa yang akan dilakukan Kim Ryeowook dengan wajah semangat dan seantusias itu, hanya ada satu orang yang mampu membuat Kim Ryeowook bersikap seperti sekarang ini, seseorang yang seharusnya tak lagi menjadi dambaan hati Kim Ryeowook.

 

“urus saja urusanmu sendiri, Hyung” jawab Wookie masih dengan senyuman diwajahnya, “kau tak perlu mengkhawatirkanku”

 

“berpikirlah dewasa Wookie-ya”

 

“sudahlah Hyung, aku pergi dulu ne, Bye” balas Wookie malas, kemudian berlalu meninggalkan Lee Hyukjae yang hanya mampu memandang kepergiannya dengan tatapan lelah.

 

-forbidden love-

 

Kim Ryeowook berkali-kali menatap Franck Muller yang melingkar di lengan kirinya, jam tangan mewah itu sudah menunjukkan pukul enam lewat dua belas menit, menandakan wanita yang sedang dia tunggu sudah terlambat dua belas menit dari waktu yang mereka janjikan.

 

Rasa gelisah yang di tunjukkan Kim Ryeowook saat ini bukan rasa cemas karena wanita yang ditunggunya tak kunjung datang –karena sebelumnya sang wanita sempat mengabarkan kalau dia memang akan datang terlambat– melainkan karena rasa antusias yang dirasakannya, Kim Ryeowook benar-benar sudah tak sabar untuk bertemu dengan wanita yang beberapa minggu ini tak dia temui dan hanya berkomunikasi lewat ponsel.

 

Kim Ryeowook adalah tipe pria yang sangat disiplin dengan waktu, biasanya dia akan merasa sangat kesal bila orang yang mempunyai janji dengannya datang terlambat, tapi tidak dengan wanita ini, dia tak mungkin kesal dengan wanita yang saat ini sedang dia tunggu-tunggu.

 

Kim Ryeowook tak pernah merasa keberatan walau harus terus menunggu wanita ini, tak pernah ada kata bosan dalam hatinya untuk menunggu wanita yang telah mencuri perhatiannya sejak masa sekolah dulu. Satu-satunya wanita yang sudah membawa lari hatinya.

 

Perasaan senang dan tak sabar yang menyelimuti hatinya, menjadi penawar akan rasa bosan yang muncul karena menunggu wanita yang selalu saja mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

 

Tak bisa Ryeowook pungkiri, wanita ini benar-benar membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Wanita inilah yang mampu membolak-balikkan hatinya dalam sekejap, wanita ini dapat membuat Ryeowook merasa bahagia dan sedih dalam waktu yang bersamaan, wanita inilah yang menjadi mood makernya.

 

Semua tentang wanita ini selalu membekas dihati Ryeowook, cerita dan kisah mereka berdua sejak masa sekolah dulu, semua kenangan yang terukir indah milik mereka berdua, semuanya masih tersimpan sangat rapi dalam pikirannya, sehingga terkadang lintasan-lintasan kenangan itu mampu membuat Ryeowook menyunggingkan senyum tipis bahagianya. Ryeowook sangat senang, setidaknya tak ada seorangpun yang mampu merampas dan menghapus kenangan-kenangan indah yang dia miliki bersama wanita itu.

 

Ryeowook sendiri tak pernah menyangka bahwa dia akan jatuh cinta pada sosok sahabatnya. Sosok yang tak pernah sekalipun Ryeowook bayangkan ataupun dia impikan menjadi wanita yang dia cintai. Sosok yang lebih sering mengganggunya dan seringkali membuatnya merasa jengkel. Wanita ini benar-benar mampu mempermainkan perasaan hati Kim Ryeowook.

 

Wanita ini jugalah yang mengajarkan Ryeowook tentang sebuah impian, asa dan obsesi. Tentang rasa menyerah yang tak boleh muncul dalam meraih mimpinya. Wanita inilah yang mampu membuat Ryeowook menjadi manusia yang berarti.

 

Kim Ryeowook benar-benar memuja wanita yang akan dia temui saat ini. Wanita ini ibarat udara yang dia hela, ibarat oksigennya, sumber kehidupannya. Ryeowook benar-benar tak mampu hidup tanpa kehadiran wanita ini, karena hanya wanita inilah yang bisa membuatnya damai dan tanpa wanita ini Ryeowook selalu akan merasa sepi.

 

Sosok wanita inilah yang sanggup membuat Kim Ryeowook jatuh, jatuh dalam misteri cinta yang tak pernah dia mengerti hingga saat ini. Wanita inilah yang membawa berjuta bingkisan kebahagian dan juga kesedihan untuk dirinya.

 

Namun sayang, wanita yang sedang kita bicarakan ini tak pernah tau perasaan sesungguhnya seorang Kim Ryeowook, bahwa pria itu sangat mencintainya melebihi hidupnya sendiri.

 

“Oppa” sebuah panggilan nyaring membangunkan Ryeowook dari lamunan panjangnya. Ryeowook menyunggingkan senyum lebarnya melihat wanita yang sedang dia tunggu-tunggu berjalan sedikit berlari kearahnya, tak mempedulikan kalau saat ini wanita itu tengah menggunakan stiletto dengan hak runcing yang cukup tinggi, ‘dasar wanita ceroboh’ batin Ryeowook, tak pernah melepaskan pandangan kagumnya pada sosok yang semakin mendekat ke arahnya.

 

Namun senyum lebar di wajah Ryeowook memudar saat dia menyadari kalau wanita yang sejak tadi dia tunggu-tunggu tak datang seorang diri. Dibelakang wanita itu muncul seorang pria yang Ryeowook kenal baik, karena sesungguhnya pria itulah yang menjadi sandungan terbesarnya untuk mendapatkan wanita yang baru saja mendudukan diri di sebelah kanannya.

 

“Oppa, apa kau menungguku terlalu lama? Mianhae eo, ini semua karena Henry Oppa, dia membuatku harus menunggunya bertemu dengan kliennya terlebih dahulu, hhh… aku benar-benar kesal dengannya, dia membuatku hampir mati kesal karena harus menunggunya selesai meeting” seloroh wanita cantik itu cepat tanpa mempedulikan wajah Ryeowook yang mulai kebingungan mengikuti cara bicaranya yang sangat cepat.

 

“gwaenchana” jawab Ryeowook singkat dengan menyunggingkan senyumnya sambil menikmati semua ekspresi dan gaya bicara yang dikeluarkan wanita dihadapannya ini.

 

“kau pasti sangat bosan menungguku, ne? Mianhae Oppa, Jeongmal Mianhae eo”

 

“Gwaenchana Minji-ya, Gwaenchana” jawab Ryeowook meyakinkan.

 

“syukurlah kalau kau tak marah padaku, aku sempat khawatir kau akan marah padaku, pasalnya ini sudah cukup lama dari pertemuan terakhir kita, aku takut kau tak mau menungguku, lalu kau-“

 

“Minji-ya” potong Ryeowook cepat, “bisakah kau membuatnya diam, kepalaku cukup pusing mendengarnya terus mengoceh” pinta Ryeowook dengan wajah sebal yang dibuat-buat pada pria yang sudah duduk di sofa samping Song Minji.

 

“Oppa” protes Minji tak terima.

 

“sudahlah Minji-ya, kau lihat sendirikan, Wookie Hyung tak marah padamu, justru dia akan marah padamu jika kau tak menghentikan ocehanmu itu” jelas Henry Lau, pria yang duduk disamping Song Minji, yang menimbulkan wajah cemberut pada wanita itu semakin dalam, “dia juga membuatku sangat pusing Hyung, sejak di mobil tadi dia tak berhenti memarahiku karena membuatnya datang terlambat untuk bertemu denganmu” Kim Ryeowook hanya menyunggingkan senyum tipisnya mendengar keluhan pria didekatnya.

 

Namun keluhan yang dilayangkan Henry sebenarnya membuat Ryeowook cukup iri, Ryeowook membayangkan kalau dirinyalah yang ada di posisi Henry saat ini, menerima sikap cerewet Song Minji, menerima emosi Minji yang meledak-ledak dan tentu saja menerima cinta dan curahan kasih sayang dari wanita itu. Dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan itu semua.

 

“Oppa, kau menyebalkan” protes Minji sebal pada pria yang berada disampingnya.

 

“wae?! Kau bilang aku menyebalkan, eo?!”

 

“aish, sudah-sudah, kenapa kalian berdua jadi bertengkar di hadapanku” potong Ryeowook cepat, mencegah aksi anarkis Song Minji yang siap melayangkan pukulan dengan bantal sofa yang berada dipangkuannya pada Henry.

 

“aku benci padamu” ucap Minji kesal.

 

“aku juga, wee” balas Henry sambil mengeluarkan lidahnya, menggoda Song Minji.

 

“Hya! Kenapa sekarang kalian berdua malah terlihat seperti anak kecil” protes Ryeowook kesal, tak tahan melihat pertengkaran yang justru terlihat sangat menguras rasa cemburunya, “kalian masih saja bertindak kekanak-kanakan padahal kalian sudah-“

 

“Oppa” potong Song Minji.

 

“wae?” tanya Ryeowook cepat dengan kekesalannya.

 

“ada sebuah berita bahagia yang ingin kusampaikan pada kalian berdua” ucap Minji penuh senyum sambil mengenggam tangan Ryeowook dan Henry secara bersamaan, perubahan mood Song Minji yang sangat cepat benar-benar membuat kedua pria yang berada dikanan kirinya sakit kepala.

 

“ada berita bahagia apa?” tanya Henry ikut penasaran, yang menimbukan binar bahagia semakin meliputi mata almond Song Minji, kini mata itu memandang Henry dan Ryeowook bergantian.

 

Ryeowook yang sudah mengenal Song Minji hampir sepuluh tahun, tetap saja tak mampu membiasakan diri terhadap tatapan memenjarakan wanita itu. Saat Song Minji menatapnya, Ryeowook dapat merasakan aliran listrik mengalir ditubuhnya bersama aliran darahnya yang mengalir lebih cepat.

 

Terlebih lagi Ryeowook merasakan tangan lembut Song Minji menggenggam erat kepalan tangannya, hal itu menyebabkan jantungnya berdetak semakin cepat, Ryeowook memejamkan matanya mencoba mengatur nafasnya yang mulai terasa tak beraturan.

 

Dan keberadaan tubuh mungil Minji yang bersebelahan dengan tubuh Kim Ryewook, membuat pria itu merasakan sensasi kepakkan sayap ratusan kupu-kupu diperutnya hingga mampu membuat tubuhnya memanas. Wanita ini benar-benar membuatnya gila.

 

“aku hamil”

 

Perkataan singkat dan padat Song Minji ibarat halilintar yang menyambar dan menghancurkan semua perasaan bahagia yang tadi menyelimuti Kim Ryeowook. Tubuh Ryeowook membatu, tiba-tiba saja otaknya berhenti berpikir.

 

Perasaan kaget dan tak percaya membuat seluruh energi dalam tubuh Kim Ryeowook tersedot habis, tubuhnya melemah, matanya memanas, dia tak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh indra pendengarannya, otaknya kembali mengulang-ulang perkataan singkat wanita itu. aku hamil, aku hamil, Hamil?!

 

“yeobo?!” pekikkan keras dari pria yang berada disebelah kanan Song Minji sama sekali tak mampu menyadarkan Ryeowook dari rasa terpakunya, “benarkah kau hamil?!” tanya Henry tak percaya.

 

“ne suamiku, aku hamil, aku akan menjadi ibu dan kau akan menjadi seorang ayah” ucapan bahagia Song Minji justru membawa Ryeowook semakin jatuh dalam jurang kehancuran.

 

Ya, Kim Ryeowook mencintai wanita yang sudah memiliki suami, wanita yang sudah berstatus sebagai istri orang lain, terdengar gila bukan, tapi mau bagaimana lagi, Ryeowook tak pernah bisa mengontrol pada siapa hatinya akan berlabuh. Rasa cinta Kim Ryeowook pada Song Minji bahkan lebih dulu ada sebelum wanita itu mengubah statusnya menjadi Nyonya Lau. Dan yang menjadi kesalahan terbodoh Kim Ryeowook adalah dia tak mampu menghentikan rasa cinta yang semakin lama justru semakin menimbulkan lubang luka dalam hatinya.

 

Tak ada yang mampu menggambarkan apa yang tengah pria itu rasakan saat ini. Kim Ryeowook ibarat dihempaskan dari gedung yang paling tinggi, tubuh dan jiwanya hancur, hatinya luluh lantak. Sensasi sesak melingkupi dadanya, dia merasakan seperti ada seseorang yang mencabut secara paksa oksigennya, sesak, teramat sesak hingga menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan.

 

Perasaan sakit yang sama terulang untuk kedua kalinya. Rasa sakit yang pertama dia dapatkan adalah ketika dia mendengar wanita yang dia cintai akan menikah dengan pria yang juga sahabatnya. Ryeowook kalah cepat, Henry lebih dulu menyatakan perasaan cintanya pada Song Minji, dan Minji dengan senang hati menerima pernyataan cinta pria itu.

 

Namun kala itu Ryeowook mampu bangkit dari rasa terpuruknya, karena dia yakin, dia mampu merebut Song Minji yang memang seharusnya menjadi miliknya. Merebut kembali wanita yang mengisi seluruh bagian hatinya dari tangan pria bernama Henry Lau.

 

Saat itu Ryeowook tak peduli dengan anggapan orang lain yang akan menyebutnya pria perusak rumah tangga orang, hal yang sangat tabu dan memalukan menurut orang-orang dari daerah asalnya, tapi Ryeowook benar-benar tak peduli asalkan dia mampu membuat Song Minji kembali padanya.

 

Rencana gila Kim Ryeowook pun sempat ditentang keras oleh Lee Hyukjae dan Choi Siwon, atasan sekaligus sahabatnya. Tapi Ryeowook yang telah dibutakan oleh perasaan cintanya, benar-benar sudah tak mempedulikan ucapan orang-orang disekitarnya.

 

Hingga beberapa waktu lalu dia merasa usahanya mulai menampakkan sebuah hasil, Song Minji lebih sering menghubunginya, mengadukan sikap Henry mulai lebih cuek dan tak mempedulikannya.

 

Minji sering dibuat kesal dengan sikap Henry yang selalu sibuk dan mementingkan pekerjaan. Dan disaat seperti inilah Ryeowook berharap dia dapat masuk mengisi kekosongan Henry, hingga pada sore ini sebenarnya dia berniat mengajak Minji menghabiskan waktu bersamanya, namun berita mengejutkan tentang kehamilan Minji benar-benar membuatnya laksana mayat hidup.

 

Hati Ryeowook bagai dihujam sebuah pisau berkarat, sakit, teramat sakit, hingga tak ada perumpamaan yang sanggup menggambarkan kondisi hatinya yang hancur terkoyak. Ryeowook merasa impian terbesarnya untuk hidup bersama Song Minji padam seketika, harapannya musnah bersama tawa riang Minji dan Henry yang masih membahana.

 

Jika ingin menuruti hasrat dan obsesinya, Ryeowook bisa saja terus menjadi pria kejam dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi obsesinya tersebut. Namun menyadari kondisi Song Minji yang tengah berbadan dua, menyadari kenyataan bahwa ada sebuah makhluk kecil yang tak berdosa yang akan ikut menjadi korban akan sikap arogan dan pengecutnya, akankah Ryeowook tega. Bagaimana pun Ryeowook masih memiliki hati nurani, dan bersyukurlah kalian, karena saat ini hati nurani Ryeowook sedang menang melawan obsesinya terhadap Song Minji.

 

Ryeowook memandang penuh luka dan kesakitan dua manusia yang terlihat sangat bahagia disampingnya. Mereka berdua benar-benar terlihat seperti keluarga dengan kebahagiaan yang sempurna, dengan sang ayah yang tengah mengelus pelan calon bayi yang masih berada dalam kandungan ibunya.

 

Ryeowook merasakan kehadirannya benar-benar tak berguna, dia merasa seperti parasit pengganggu yang hanya akan merusak kebahagiaan yang tercipta.

 

Perlahan Ryeowook beranjak dari duduknya, mengumpulkan semua tenaganya yang tersisa untuk melangkahkan kaki meninggalkan dua manusia yang masih tenggelam dalam rasa suka citanya. Airmata kepedihan menetes dari mata Kim Ryeowook, menyadarkannya bahwa Song Minji tak akan pernah menjadi miliknya.

 

Ryeowook melangkah gontai dalam segala kesakitannya, meninggalkan asa dan harapan terakhirnya, meninggalkan Song Minji dengan kebahagiaannya. Mulai saat ini Ryeowook harus belajar meninggalkan Song Minji untuk menjadi bagian masa lalunya, Song Minji yang selama ini menjadi tujuan akhir hidupnya, Song Minji yang tak akan pernah mampu dia raih. Ryeowook pergi dengan membawa lukanya.

 

 

 

-The End-

Advertisements

6 thoughts on “Forbidden Love

  1. oooh uri ryeowook cakit hati,,penyesalan memang selalu datang terlambat dan menyakitkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s