Surfeited (Almost Seven Years) part 2


Donghae

 

AN       : ini part 2 dari kisah Lee Donghae. Maaf banget kalo alur ceritanya terkesan maksa ya. Maaf untuk typo yang bertebaran. Happy reading ^^

 

 

****

 

“kau terlihat sibuk sekali sejak tadi, kau berkirim pesan dengan siapa memangnya?” tanya Nara lembut namun terlihat sekali rasa penasaran menyelimuti pertanyaannya.

 

“aniya… hanya dengan Eunhyuk” jawab Donghae santai.

 

“Eunhyuk? Tumben, ada apa?”

 

“dia dan yang lain sedang berada di club saat ini, mereka menginginkan aku datang”

 

“kau ingin datang?” tanya Nara langsung, namun sebenarnya Nara sedang ingin memastikan sesuatu yang lain.

 

“bolehkah??”

 

“kenapa tidak” jawab Nara sambil menyunggingkan senyum manisnya.

 

Donghae yang merasa mendapat lampu hijau dari sang kekasih langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya, aura bersemangat sangat jelas meliputi Lee Donghae, namun tak begitu dengan Park Nara, entah mengapa Nara merasa semakin gelisah menghadapi sikap tak biasa yang sedari tadi ditunjukkan kekasihnya itu, saat ini Nara merasa hubungannya begitu jauh dengan Lee Donghae, Donghae bersikap tak sehangat biasanya.

 

Tak ada semenit, Donghae kembali terlihat sibuk dengan ponselnya, kemudian dia meletakkan sendok yang tadi masih dipegangnya dan mendorong kursi yang dia duduki kebelakang. Donghae bangkit dari duduknya kemudian menyebrangkan tubuhnya melewati atas meja untuk mengecup kening wanitanya singkat, “aku pergi” ucap Donghae kemudian berlalu dengan langkah lebar meninggalkan Nara yang masih terdiam di depan meja makan.

 

Tanpa bisa mencegah kepergian sang kekasih, Nara hanya mampu menatap sendu punggung kekasihnya itu hingga menghilang di balik rak buku besar. Nara masih merenungi kepergian kekasihnya, pikirannya diselimuti kebingungan, satu hal yang Nara yakini bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan hubungannya tidak sedang baik-baik saja.

 

Nara memutar kembali memorinya kebelakang selama beberapa hari ini, dia sedang merekonstruksi apa ada tindakannya yang membuat kekasihnya itu berubah, atau jangan-jangan, tidak, Nara menghentikan pikirannya, dia tak sanggup membayangkan kemungkinan terakhir yang bisa terjadi dalam hubungannya, kemungkinan bahwa Donghae tertarik dengan wanita lain, dia tak akan sanggup bila hal itu terjadi, tapi menyadari kemungkinan itu bisa saja terjadi membuat perasaan sesak meliputi dadanya.

 

Nara menolehkan pandangan sendunya ke piring yang tadi ditinggalkan oleh kekasihnya, “dia pergi begitu saja tanpa menghabiskan makan malamnya” ucap Nara lirih diiringi helaan nafasnya, “padahal aku masih sangat merindukannya” lanjut Nara sambil menopangkan kepalanya ke atas meja, meratapi kesendiriannya malam ini.

 

 -surfeited-

Lee Donghae melangkahkan kakinya memasuki sebuah Club malam elit dikawasan Apgujeong Rodeo, Donghae mengedarkan matanya mencari sosok para sahabatnya yang janji berkumpul malam ini. Mata Donghae langsung tertuju pada sebuah sofa set yang berada di sudut Club yang dihuni oleh sepasang pria dan wanita yang sedang bercumbu mesra.

 

“aish… dasar pria mesum” gumam Donghae pada dirinya sendiri melihat tingkah sahabatnya yang bermesraan seenaknya tak peduli tempat dimana mereka berada saat ini. Dengan langkah lebar Donghae mendekatkan diri pada dua pasang manusia yang sedang tenggelam dalam dunianya itu.

 

“Hya! Lee Hyukjae!” tegur Donghae keras hingga membuat orang yang dipanggilnya itu melepaskan diri dari dekapan wanita dihadapannya.

 

“Aish… Lee Donghae! Kau ingin membuatku jantungan, eo?!” protes Hyukjae tak terima kegiatan menyenangkannya di interupsi begitu saja.

 

“dasar pria mesum” cibir Donghae yang langsung mendapatkan tatapan mematikan dari Lee Hyukjae, sementara sang wanita yang berada disisi Lee Hyukjae hanya menatap Donghae malu.

 

“kau tak ingin mengenalkannya padaku?” tanya Donghae menatap singkat wanita yang berada disebelah sahabat karibnya itu.

 

“eo, Donghae-ya perkenalkan ini kekasihku Shin Boyoung, Young-ah perkenalkan ini sahabatku Lee Donghae” ujar Eunhyuk memperkenalkan dua orang yang berada dikanan-kirinya.

 

“Annyeonghaseo Lee Donghae-ssi”

 

“Annyeonghaseo Shin Boyoung-ssi” balas Donghae sambil mendudukan diri disisi Eunhyuk yang lain, “berbeda dengan wanita yang kau kenalkan denganku tiga hari lalu” bisik Donghae pada sahabatnya itu.

 

“siapa maksudmu? Song Miran atau Jung Haena?” jawab Eunhyuk ikut berbisik dengan tampang bingungnya.

 

“dasar Player, memangnya aku mengingat daftar wanita yang kau kencani dalam seminggu” balas Donghae terkekeh kesal terhadap sikap sahabat karibnya ini yang suka sekali bergonta-ganti teman kencan.

 

“aish, diam kau” ucap Eunhyuk tak kalah kesal karena Donghae mengucapkan kalimatnya barusan dengan nada keras, Eunhyuk tak ingin wanita yang berada disebelahnya mendengar apa yang dikatakan Donghae, “mana Park Nara?” pertanyaan tiba-tiba Lee Hyukjae sontak membuat Donghae menghentikan tawa sinisnya, “kau tak mengajaknya, eo? Bukankah ku bilang malam ini kita berkumpul dengan membawa para wanita”

 

“dia sedang banyak pekerjaan” jawab Donghae singkat tak ingin membahas lebih lanjut ketidakhadiran kekasihnya yang memang sengaja tidak dia ikut sertakan.

 

“hya, kekasih macam apa kau membiarkan wanita mu menyelesaikan pekerjaannya sendirian di jumat malam seperti ini” sindir Eunhyuk, “lagipula kau kan atasannya, kenapa kau membiarkan karyawan sekaligus kekasihmu terus berkutat dalam pekerjaan?” lanjut Eunhyuk tak mengerti.

 

“mana Siwon?” tanya Donghae cepat mengalihkan pembicaraan sahabatnya.

 

“jangan coba mengalihkan pembicaraanku” tegas Eunhyuk tak suka topiknya dialihkan, “kau belum mengatakan semua yang sedang kau rasakan kepadanya?” Donghae membalas pertanyaan Lee Hyukjae dengan sikap diamnya, “kau pasti belum memutuskan apapun?” tebak Eunhyuk.

 

“aku tak ingin membahas masalah ini”

 

“sudah kuduga, kau tak akan berani mengambil keputusan apapun” ejek Eunhyuk pada sahabatnya.

 

“apa maksudmu?” tanya Donghae tak terima dengan nada remeh yang dikeluarkan Lee Hyukjae.

 

“Kau pengecut, kau terlalu pengecut untuk mengambil keputusan apapun Donghae-ya, kau tak berani memperbaiki hubunganmu ataupun menyudahinya” Donghae masih menatap Eunhyuk dengan pandangan kesal, tak terima cap pengecut yang dilayangkan Eunhyuk padanya. “kau menggantung hubunganmu sendiri, taukah kau jika situasi seperti ini justru lebih terasa menyakitkan bagi tipe wanita seperti Park Nara?!” ucap Eunhyuk keras.

 

“contohlah Siwon” lanjut Eunhyuk sambil menunjuk dengan dagunya seorang pria yang mendekat kearah mereka sambil menggandeng mesra wanita yang berjalan disisinya, “pria melankolis itu sangat berani dalam mengambil keputusan” puji Eunhyuk pada sosok atasan sekaligus sahabatnya, “Siwon berani menanggung semua perasaan sakit yang diciptakan Kim Raya untuknya, asal dia bisa terus bersama dengan wanita yang sangat dia cintai itu”

 

“tak usah menasehatiku! sebaiknya kau urus saja urusanmu dengan para wanita koleksimu itu” balas Donghae tajam, tak terima tuduhan Eunhyuk sebelumnya bahwa dia telah menyakiti perasaan Park Nara, perasaan wanitanya.

 

Sementara itu Eunhyuk justu tertawa renyah mendengar ucapan balasan yang dilontarkan Donghae terhadap masukan yang diberikannya. “terserah kau sajalah, lakukan apa yang kau mau. Aku hanya menyarankanmu untuk tak menjadi seorang pecundang” sindir Eunhyuk tajam kemudian mengalihkan dirinya kembali kepada sosok wanita yang sejak tadi diam disampingnya.

 

Sementara itu, Donghae kembali sibuk dengan pikirannya, ucapan Lee Hyukjae seperti menghadapkannya pada sebuah kenyataan, benarkah dia seorang pecundang yang tega menyakiti perasaan wanita yang dia cintai karena sikap pengecutnya.

 

“maaf kami datang terlambat” ucap Siwon pada orang-orang yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi, yang tentu saja menginterupsi Donghae dari lamunan sesaatnya.

 

“gwenchana Sajangnim” balas Eunhyuk ringan, “annyeonghaseo Raya-ssi”

 

“Annyeonghaseo Eunhyuk-ssi” balas wanita cantik yang disapa oleh Eunhyuk itu.

 

Sementara orang-orang disekelilingnya saling menyapa, hal lain terjadi pada Lee Donghae. Donghae justru tenggelam pada pandangan dalamnya yang menatap pasangan yang baru saja tiba dihadapannya. Donghae memusatkan perhatiannya pada sosok sahabat karibnya Choi Siwon.

 

Perkataan Eunhyuk tadi seratus persen benar, sahabat dihadapannya ini telah mengambil keputusannya, Siwon rela menghadapi semua hal yang terjadi asal dia bisa terus bersama Kim Raya. Siwon telah mengambil keputusannya untuk terus bersama wanita yang dia cintai tanpa peduli semua luka yang selalu wanita itu ciptakan untuknya.

 

Entah itu karena sebuah perasaan cinta yang dalam atau justru sebuah tindakan bodoh yang dilakukan oleh pria tampan yang bahkan dengan lirikannya mampu menakhlukkan setiap wanita yang melihatnya, tapi setidaknya Siwon berani mengambil sebuah keputusan, dan dia menerima semua akibat yang ditimbulkan oleh keputusannya itu, walaupun besar kemungkinan jika Siwon akan terluka semakin dalam.

 

Tapi bagaimana dengan dirinya, Donghae bahkan tak mempunyai cukup keberanian untuk menggungkapkan apa yang tengah dia rasakan saat ini pada wanita yang dicintainya. Donghae memilih bertahan dalam kondisi ini tanpa kejelasan apapun, dia tidak berusaha memperbaiki hubungannya ataupun mengakhirinya, karena dia terlalu takut, dia takut akan akibat yang timbul dari setiap keputusannya. Dia takut jika dia bertahan hal itu justru tak memperbaiki kondisi apapun yang sudah terlanjur tercipta, tapi jika dia mengakhirinya apakah dia sanggup kehilangan wanitanya, karena dia masih mencintai Park Nara.

 

“Donghae-ssi, dimana Park Nara?” pertanyaan yang dilontarkan Kim Raya menyadarkan Donghae dari lamunannya.

 

“eo, dia sedang sibuk saat ini Raya-ssi, oleh sebab itu dia tak bisa ikut denganku malam ini”

 

“tidak terjadi apa-apakan?” tanya Siwon tak jelas, tapi Donghae sepenuhnya paham maksud pertanyaan sahabat karibnya itu.

 

“semuanya baik-baik saja”

 

 

-surfeited-

 

 

Mau ku tak menyakiti

Meski begitu indah ku masih tetap saja

Jenuh!

 

 

Jam sudah menunjukkan pukul 7, udara malam ini terasa cukup dingin karena sudah mendekati akhir musim gugur. Melalui jendela ruang tamu apartmentnya, Nara dapat melihat jika langit sangat gelap, sekarang memang malam hari tetapi bukan seperti gelapnya malam yang Nara lihat, malam ini terasa sangat pekat lebih pekat dari biasanya, langit pun tanpa bintang, seperti akan ada badai.

 

Nara mengalihkan pandangannya kepada sosok laki-laki yang duduk santai di single sofa ruang tamunya. Kekasihnya itu terlihat sangat sibuk dengan ponsel tipisnya, sejak awal datang tadi perhatian pria itu tak pernah teralihkan dari benda yang entah sejak kapan menjadi benda yang paling Nara benci keberadaanya.

 

Nara benar-benar tak nyaman dengan kondisi yang tercipta. Sudah beberapa hari kebelakangan perasaan Nara selalu diselimuti oleh kecemasan akan sikap tak biasa yang ditunjukkan oleh kekasihnya. Nara sangat khawatir dan tak mengerti sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan kekasihnya ini.

 

Akhir-akhir ini Lee Donghae terlihat lebih sering menghindarinya, sikapnya pada Nara yang biasanya hangat pun sekarang berubah lebih dingin dan cenderung tak peduli. Sejak awal Nara merasakan perubahan pada kekasihnya, Nara ingin sekali mencoba mengkonfirmasikannya, namun entah mengapa dia seolah tak memiliki keberanian. Dia seolah tak siap menerima alasan apapun dibalik perubahan sikap kekasihnya itu.

 

Kebersamaan yang terjalin antara Nara dan Donghae selama hampir selama tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Nara mengenal kekasihnya sangat baik, hampir tak ada yang bisa disembunyikan kekasihnya itu dari dirinya, dan saat ini Nara tau, ada yang tak beres dengan kekasih yang duduk dihadapannya ini.

 

Dengan segala keberanian yang dikumpulkannya, Nara mencoba menginterupsi keasikan Donghae dengan benda tipis kesayangannya, “Oppa?” panggil Nara pelan pada sosok kekasihnya.

 

“hm” sementara orang yang dipanggil Nara hanya menjawab tak acuh.

 

“kau baik-baik saja?”

 

“ne, aku baik-baik saja” jawab Donghae masih tak mengalihkan pandangannya dari benda yang masih setia digenggamnya.

 

“sebenarnya ada apa?” tanya Nara dengan nada melirih.

 

“hm?” tanya Donghae singkat, lagi-lagi tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel yang masih menjadi fokus utamanya, namun hal itu tak membuat kesabaran Park Nara berkurang sedikit pun.

 

“sebenarnya apa yang sedang terjadi, Oppa?” Nara tau semuanya sedang tak baik-baik saja, hubungannya dengan Lee Donghae sedang bermasalah, tapi Nara tak tau apa masalah itu, hanya feelingnya sebagai seorang wanita mengatakan kalau semuanya sedang tidak berada pada jalurnya.

 

Namun ada satu hal yang sangat Nara takuti dan tak ingin dia dengar keluar dari mulut kekasih yang sudah mendampinginya selama hampir tujuh tahun. Nara tak ingin satu-satunya orang yang dia miliki, pria yang sangat dicintainya berpaling dan meninggalkannya. Nara benar-benar tak sanggup membayangkan hal itu terjadi.

 

Perasaan gugup dan takut tiba-tiba menyelimuti sekujur tubuhnya. Untuk menutupi segenap perasaan itu, Nara mencengkram pinggiran bantal yang berada dipangkuannya dengan erat, menyalurkan rasa tegangnya menanti jawaban yang akan keluar dari mulut kekasihnya.

 

“katakan padaku apa yang sebenarnya sedang terjadi Oppa?” pinta Nara semakin pelan.

 

Donghae yang merasakan nada bicara kekasihnya yang mulai berubah kini bergeming, dia meletakkan ponselnya ke atas meja dan menyandarkan badannya pada sandaran sofa.

 

Donghae tau, inilah saatnya, saat yang tepat untuk dia membicarakan apa yang tegah menyelimuti hatinya belakangan ini, saat yang tepat untuk dia mengatakan semua yang dia rasakan kepada wanitanya, saat yang tepat untuk dia membicarakan keputusannya.

 

Donghae menatap mata coklat kekasihnya cukup lama, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanitanya akan tetap baik-baik saja setelah apa yang akan dia katakan malam ini. Namun Donghae tak mampu membaca segala macam emosi tertahan yang terlintas dimata bulat milik wanitanya itu.

 

Sementara itu, Nara semakin gelisah dengan keheningan yang menyelimuti mereka, keheningan ini membuatnya semakin merasa tak nyaman, seperti keheningan sebelum terjadinya badai, badai pertama yang akan datang dalam hubungannya yang selama ini baik-baik saja, badai yang seolah-olah akan memporak-porandakan semua mimpi indah yang pernah coba Nara rangkai bersama kekasihnya.

 

“mianhae” ucapan Donghae terdengar lelah.

 

“wae? Kenapa Oppa meminta maaf?” tanya Nara semakin diselimuti oleh rasa takut. Seketika perasaan sesak meliputi Park Nara, perasaan sakit menjalar didadanya, Nara merasa kesulitan menghirup oksigennya. Mendadak dia merasa tak siap dengan jawaban apapun yang akan dikeluarkan oleh kekasihnya. Nara menegangkan otot dadanya, seperti mencoba menahan benturan keras yang akan datang, menyiapkan diri dengan jawaban apapun yang akan diutarakan laki-laki yang sangat dicintainya ini.

 

“bisakah kita memikirkan kembali tentang hubungan kita?” permintaan pelan Lee Donghae sontak membuat airmata menggumpal di ujung mata Park Nara.

 

“waeyo? Apa ada yang salah dengan hubungan kita?” tanya Nara tak percaya, pasalnya dia merasa selama ini hubungan mereka baik-baik saja, sangat baik malah, mereka saling memahami satu sama lain dan mereka jarang bertengkar, hampir tidak pernah malah. Tapi ucapan Donghae barusan mengisyaratkan seolah-olah hubungan mereka tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja.

 

Donghae terdiam, tak mampu berkata apapun. Ada perasaan tak nyaman dihatinya melihat airmata mulai membendung dimata bulat Park Nara. Donghae tau pasti, dia sudah mulai menyakiti perasaan kekasihnya, wanita yang dia cintai.

 

Nara yang merasa tak mendapat jawaban dari Donghae, mencoba berspekulasi, “apa Oppa mencintai wanita lain?” tanya Nara dengan airmata yang mulai turun dipipinya, tak sanggup menerima kenyataan akan kehadiran sosok lain yang mengisi hati prianya.

 

Donghae yang mendengar tuduhan Nara langsung menggeleng cepat. “ani, tidak, bukan! Bukan seperti itu”ucap Donghae panik, tak ingin wanitanya salah paham, “aku hanya mencintaimu, sungguh!” lanjut Donghae dengan yakin.

 

“lantas kenapa? Kenapa kita harus memikirkan hubungan kita kembali?” tanya Nara dengan nada yang mulai tak sabar, kini Nara kembali mencoba menahan airmatanya. Sementara itu Donghae lagi-lagi hanya mampu terdiam mendengar pertanyaan tak terima yang keluar dari mulut Park Nara.

 

“apa Oppa marah padaku?” tanya Nara dengan suara pelannya.

 

“tidak” jawab Donghae cepat.

 

“lalu kenapa? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi Oppa?” tanya Nara semakin tak sabar dengan airmata yang kembali turun dimatanya.

 

Donghae menghela nafasnya berat, “aku tak tau apa yang sedang terjadi pada diriku, tapi bisakah kita mengistirahatkan hubungan kita?!” pinta Donghae sambil menatap dalam mata Park Nara, nada bicara Donghae terdengar mendesak frustasi.

 

“Mworago?! Kau ingin kita berakhir, Oppa?!” tanya Nara tak percaya, nada bicara Park Nara meninggi karena emosi yang sudah tak mampu ditahannya dan airmata semakin membentuk aliran deras dikedua pipinya. Perasaan sakit dan sesak semakin menguasai hati Park Nara ketika dia mendengar pria yang sangat dia cintai meminta semuanya berakhir.

 

Sementara itu, Donghae ternyata ikut terluka menghadapi reaksi yang dikeluarkan Park Nara, Donghae tak menyangka reaksi Park Nara akan seperti ini, wanita dihadapannya ini terlihat sangat terluka dan menderita, ini pertama kalinya Donghae melihat kekasihnya menangis dan tertekan seperti ini, dan bodohnya lagi dialah yang menjadi penyebab wanita yang dia cintai berada dalam kondisi seperti ini.

 

“Bukan, bukan seperti itu! kumohon mengertilah” pinta Donghae sambil mendekatkan dirinya pada Park Nara, mencoba menarik wanita itu dalam pelukannya karena sesungguhnya Donghae tak sanggup melihat Nara menangis seperti ini. Tapi reaksi yang diberikan Park Nara justru semakin membuat Lee Donghae merasa bersalah, wanita itu menjauhkan dirinya mencoba mengelak dari pelukan yang akan diberikan olehnya.

 

“kau ingin menjauh dariku, eo?” tanya Nara nyaris tak terdengar, Nara sungguh merasa terluka dengan kata-kata sebelumnya yang keluar dari mulut laki-laki yang katanya sangat mencintainya ini.

 

Donghae yang mendengar ucapan lirih Park Nara mencoba memberi pengertian “bukan seperti itu, aku sendiri tak mengerti dengan apa yang kurasakan saat ini, aku hanya butuh waktu Park Nara” ucap Donghae lembut namun sarat rasa frustasi sambil menggengam wajah Park Nara dengan kedua tangannya.

 

Nara yang hanya mendengar nada frustasi dari kalimat yang diucapkan Lee Donghae semakin tenggelam dalam tangisnya. Airmatanya semakin deras mengalir dan kali ini diiringi oleh isakannya yang tertahan.

 

Donghae yang tak tahan dengan situasi yang dihadapinya, justru mulai mengerang semakin frustasi, “kumohon mengertilah! aku cuma butuh waktu Park Nara!!!” ucap Donghae lelah meminta pengertian dari wanitanya, sebenarnya Donghae tak tahan melihat airmata yang semakin deras mengalir dipipi wanitanya, tapi dia hanya ingin wanitanya itu mengerti dengan apa yang dia rasakan.

 

“apa kau bosan denganku??” isak tangis mengiringi pertanyaan yang keluar dari mulut Park Nara.

 

“NE! aku bosan!! Aku bosan dengan semuanya!” ucap Donghae keras.

 

Donghae tak pernah menyadari, ucapannya baru saja menyakiti Park Nara sangat dalam. Ucapan keras yang Donghae lancarkan barusan ibarat sebuah tombak yang tepat menghujam jantung Park Nara. Membuat Nara hancur seketika. Nara mencengkram erat dadanya yang semakin diliputi perasaan menyakitkan.

 

Perkataan Donghae seperti sebuah vonis kematian bagi Nara. Nara mengerti, ini bukan hanya sekedar perasaan bosan, ini adalah sebuah titik balik, ketika prianya merasa jenuh dengan semuanya, ketika Donghae merasa jenuh dengan dirinya, ketika prianya sudah tak ingin berada disampingnya lagi, ketika prianya sudah tak lagi mencintainya.

 

Nara sepenuhnya paham apa yang sedang terjadi, pria ini, Lee Donghae, ingin semuanya berakhir. Nara semakin jatuh dalam luka dan tangisnya. Nara tak pernah mengira ternyata semuanya hanya mampu bertahan sampai ‘hampir tujuh tahun’ kemudian berakhir tak bersisa.

 

 

****

 

 

Fail! Fail! Fail! satu lagi cerita dengan akhir yang gagal T-T.

Huwaaaa…. Maaaaafffff banget untuk adegan sinetronnya yang berasa berlebihan (ato malah kurang?). maaf untuk segala ketidaknyamanan di part ini, semoga masih ada yang mau baca semua tulisan saya (karena biasanya setiap abis nulis saya berpikir ‘ada yang baca gak yah?’). Terimakasih untuk pengunjung setia blog saya, yang walaupun Cuma sedikit yang menampakkan diri, tapi saya seneng banget kalo tulisan saya masih ada yang mau baca. Terimakasih untuk perhatiannya, sampai ketemu lagi. *bow bareng Donghae*

Advertisements

24 thoughts on “Surfeited (Almost Seven Years) part 2

    • makasih 🙂

      iya masih ada lanjutannya, tapi sabar ya, soalnya lanjutan kisahnya bakal di post setelah kisahnya Eunhyuk rilis, tapi kisahnya Eunhyuk aja masih jadi draft hehehe :p

      makasih udah baca 😀

  1. huaaa, nyesek banget bacanya! kena banget di hati, huhu 😥
    jadi makin penasaran kisah selanjutnya gimana…
    dilanjut ya thor, jangan lama lama 😉

  2. Yaaahh kirain udah end, bkal ada nyesek yg menanti nih kalo masih blum selesai,, dan paling tidak si dongek sudah jujur sma park nara udah lbih cukup lah #naraygtrcakitihatinya

  3. Tuh kan malah jadi kaya gini aku gak terima chingu hiks disini knp hae nya nyebelin sih kan kasian nara, pokoknya ditunggu next part nya ASAP ya 😉

  4. aaaaaaaaaa….. ada lanjutannya kahhh????
    lanjut donggg ya ya 😉
    ffnya bener2 bikin gereget juga nyesekin(?) pas bag akhir 😥
    pokonya d tunggu nextnya 😀

  5. Aaargghhh eonni ini nganggung banget sumpah 😭😭😭 padahal aku pengennya nanti donghae sama nara balikan tapi ternyattaaa 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s