Surfeited (Almost Seven Years) part 1


Donghae

AN       : ini tuh SongFic dan ini pernah di post di SUJUFF2010 tapi yang dipost disana castnya Zhoumi karena waktu itu aku ikutin FF ini pas eventnya Zhoumi, tapi cast aslinya itu Lee Donghae, seperti yang pernah aku kasih tau kisah ini masih ada kaitannya sama ‘I Fall, Again!’, kalo ‘I Fall, Again!’ kisahnya Choi Siwon dan ini kisahnya Lee Donghae. FF ini Two Shot dan sebenernya ini adalah FF yang pertama kali aku bikin, jadi maklum kalo bahasanya gak beraturan dan ceritanya cenderung terasa maksa, maklum ya, masih belajar hehehe…

Oke, terlalu banyak intro sepertinya, langsung baca aja ya, Enjoy ^^

 

****

 

Ternyata hati, tak bisa berdusta.

Meski ku coba, tetap tak bisa.

 

 

Lee Donghae menatap sendu wanita yang tengah berbaring dihadapannya, kekasih yang sudah hampir tujuh tahun ini mendampinginya. Entah apa yang tengah berkelebat dipikiran Donghae. Diperhatikannya terus wajah cantik kekasihnya yang tengah tertidur pulas itu. Semakin dia menatap kekasihnya, semakin berkecamuk perasaan dalam dada yang ia rasakan. Membuatnya merasa semakin tak menentu.

 

“hehhh…” Donghae menghela nafasnya, dari helaan nafasnya terdengar sekali rasa lelah yang menghimpit segala perasaannya. Kini pria tampan itu memilih beranjak dari duduknya ditepi tempat tidur dan berjalan menuju pintu, keluar dari kamar wanitanya.

 

Ceklek . . .

 

Ditutupnya pintu kamar itu secara perlahan, Donghae takut aktifitasnya mengganggu sang penghuni kamar yang sedang terlelap. Donghae kini berjalan kearah pintu keluar apartment kekasihnya, Donghae memilih untuk tidak menginap malam ini. Padahal biasanya ketika dia sedang kalut seperti ini, hanya pelukan kekasihnyalah yang mampu menenangkannya.

 

Saat ini, bukan dia tidak ingin berada disamping kekasihnya, tapi bagaimana bisa dia berada disamping kekasihnya jika justru kekasihnyalah yang menjadi sumber kekalutannya saat ini. Donghae lebih memilih pergi, menenangkan dirinya sendiri.

 

 -Surfeited-

 

Dulu cinta ku, banyak padamu.

Entah mengapa, kini berkurang

 

 

Sinar hangat matahari menerobos masuk kedalam ruangan yang hanya ditutupi gorden tipis. Nara yang masih dikuasai mimpi, menggeliat dalam tidurnya, terusik cahaya matahari yang mengganggunya. Dalam kondisi setengah sadar, ditariknya selimut yang menutupi tubuhnya hingga batas kepala, tak ingin tidurnya terganggu.

 

Namun seperti ada bola lampu menyala di kepalanya, dengan segera Nara bangun dari tidurnya sambil memandang sekeliling tempat tidur seperti mencari sesuatu. Dia mencari sosok laki-laki yang seharusnya berada di kamarnya pagi ini. Mata Park Nara memandang seluruh bagian kamar, memastikan keberadaan sosok laki-laki yang semalam menemaninya tidur.

 

Nara tak menemukan keberadaan laki-laki itu didalam kamarnya. Dengan segera dia bangkit dari ranjang besarnya. “Oppa… Donghae Oppa..” panggil Nara sambil melangkahkan kakinya kearah pintu kamar mandi yang berada di pojok ruangan. Nara mencoba mengetuknya, tapi tak ada jawaban apapun dari dalam.

 

Sekali lagi dia mengetuk dan memastikan orang yang dia cari ada didalam. “Oppa… Apakah Oppa sedang mandi?” Hening. Tak terdengar suara apapun. Nara memberanikan diri membuka pintu kamar mandinya secara perlahan, kosong, tak didapatinya siapapun didalam sana.

 

Nara berkeliling apartment mencoba mencari sosok kekasihnya yang datang semalam. Ruang tamu, kosong. Nara berbalik menuju dapur yang dipisahkan oleh rak buku besar dengan ruang tamu. Tak ia temukan juga kekasihnya di sana.

 

Nara bertambah bingung, pasalnya ini baru jam 7 pagi, tak mungkin kekasihnya sudah berangkat ke kantor sepagi ini. Lagipula setaunya, kekasihnya itu tak mempunyai janji meeting dengan siapapun hari ini. Nara mencoba menduga-duga dimana keberadaan kekasih yang tak dia temui di apartmentnya.

 

Akhirnya, Nara memutuskan untuk menghubunginya, dia mengambil ponselnya yang terletak didalam kamar, ditekannya speed dial milik prianya itu. Tak ada suara apapun diseberang sana selain nada tunggu hingga panggilannya berakhir. Nara menjadi sedikit khawatir.

 

Nara mencoba menghubungi Donghae kembali, hingga nada tunggu yang ketiga.

 

“yoboseyo” suara diseberang sana terdengar berat.

 

“oppa… neo eodieseo?” tanya Nara tak sabar.

 

“apartment. Wae?” tanya pria diseberang sana dengan nada mengantuk.

 

“bukankah semalam kau datang ke tempat ku? Kau tidak menginap?”

 

“ah mianhe.. aku lupa kalau aku ada pekerjaan, jadi aku memutuskan pulang setelah kau tidur semalam. Kau baru bangun, eo?” tanya Donghae sambil menjelaskan alasan kenapa dia tidak berada di apartment kekasihnya pagi ini, sebenarnya ada alasan lain yang Donghae sembunyikan, yang tak mungkin Donghae jelaskan kepada Park Nara.

 

“ne… kenapa kau tidak membangunkanku semalam sebelum kau pergi?” tanya Nara dengan nada tak suka yang terdengar jelas.

 

“mana mungkin aku tega membangunkanmu yang sedang tertidur lelap, sepertinya kau letih sekali setelah meeting seharian kemarin” suara Lee Donghae terdengar kembali memberikan penjelasan. Sebagai kekasih sekaligus atasan Park Nara dikantor, Donghae tau akhir-akhir ini kekasihnya itu sedang banyak pekerjaan terkait proyek baru yang ditanganinya.

 

“kau benar Lee Sajangnim, para investor itu sangat merepotkanku!” jawab Nara dengan nada mantap.

 

“apa perlu ak-“

 

“tidak! Jangan lakukan apapun! Ini pekerjaanku, biar aku yang mengurusnya, kau hanya perlu menunggu laporanku di balik meja kerjamu. Arasso?!” potong Nara cepat sebelum Donghae mengutarakan bantuannya.

 

“Arasso” balas Donghae lembut sambil tersenyum mendengar reaksi cepat kekasihnya. “aku tutup teleponnya ne, aku harus bersiap” lanjut Donghae kembali.

 

“ne… sampai bertemu dikantor Sajangnim” ucap Nara sambil tersenyum simpul.

 

-Surfeited-

 

Taukah kini, kau kuhindari.

Merasakah kau, ku lain padamu.

 

 

“ ne… sampai bertemu dikantor Sajangnim”suara Nara terdengar ceria ditelingaku.

 

Kuletakkan kembali ponsel tipisku dinakas samping tempat tidur, bibirku menyunggingkan senyum getir. Kuhela nafasku keras memikirkan apa yang harus aku lakukan terhadap perasaanku sendiri. Perasaanku terhadap kekasihku. Hal ini tak boleh kuteruskan berlarut-larut. Karena jika hal ini terus berlanjut, ini akan menjadi sebuah ketidakadilan bagi wanita yang kucintai.

 

Aku bukanlah tipe pria yang mampu menutupi semua yang kurasakan dengan sangat baik, saat ini aku merasa sangat terganggu dengan perasaanku sendiri. Hal ini sungguh membuatku tidak nyaman dan serba salah. Aku benar-benar tak tau apa yang harus ku lakukan. Apa aku harus membicarakan dengannya? tapi bagaimana aku mengatakannya, aku sendiri tidak terlalu paham dengan apa yang aku rasakan saat ini.

 

“arghh… molla!” erangku sambil beranjak ke kamar mandi.

 

Selesai mandi aku masuk ke walk in closet dan mengenakan Eton putihku yang kupadukan dengan dasi berwarna maroon serta setelan Armani warna hitam. Aku termasuk orang yang cukup memperhatikan penampilan, lingkungan pekerjaan dan sosial ku mengharuskan ku untuk memperhatikan semua yang aku kenakan, ini kulakukan untuk menunjang citraku sebagai seorang eksekutif muda.

 

Drrrttt..

 

Drrrttt..

 

Drrrttt..

 

Ku hampiri ponsel yang tadi kuletakkan di nakas samping tempat tidur. Ku-Swap layarnya.

From : My Nara’

‘Oppa… how about spend your brunch time with me?’

 

 

Aku terdiam sejenak membaca pesan yang dikirim Park Nara, tanpa pikir panjang ku ketik balasanku untuknya.

 

‘To : My Nara’

‘Mian… I have appointment with Siwon. Lagipula bukankah kau ada meeting?’

 

Tanyaku mengingatkan, khawatir mungkin dia lupa kalau dia ada meeting penting hari ini.

 

‘From : My Nara’

‘Yup, but it’s lunch meeting, and i’m free now :D’

 

To: My Nara’

‘Sebaiknya kau mempersiapkan meetingmu dengan baik, kau janji padaku untuk segera menyelesaikan sendiri masalah dengan investor itu bukan. Aku menunggu laporanmu di mejaku.’

 

Ku ketik balasanku dengan cepat, mengingatkan Park Nara akan tanggung jawab pekerjaannya.

 

‘From : My Nara’

‘Arraso.’

 

Ada sedikit rasa bersalah dihatiku setelah membaca balasan singkatnya. Kemudian kumasukkan ponselku ke saku dalam jas, tapi sebelumnya aku ingat sesuatu, ku cari nomor yang sudah ada di kontakku, ku sentuh tombol hijau.

 

“Siwon-ah bisa kita bertemu?” tanya ku begitu terdengar suara diseberang sana.

 

Setidaknya aku tidak berbohong pada Park Nara.

 

-Surfeited-

 

Cinta bukan hanya cinta saja.

Sementara merasa cukup.

 

 

@ Pascucci café, Apgujeong-dong, Gangnam-gu, Seoul.

 

Seorang laki-laki tampan sedang duduk disebuah sofa nyaman yang terletak disudut café, terlihat bibirnya sesekali menyesap secangkir espresso panas yang berada ditangannya. Sementara tatapan mata dan jemari pria itu tak pernah lepas dari benda tipis persegi panjang yang menyita seluruh perhatiannya. Disampingnya duduk sang personal assistant yang juga terlihat tak kalah sibuk dengan beberapa berkas ditangannya.

 

Donghae yang baru saja memasuki café menyunggingkan senyum miringnya mendapati orang yang akan dia temui ternyata telah hadir lebih dulu. Donghae kini melangkahkan kakinya mendekati dua sosok laki-laki yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing tanpa mempedulikan sekitarnya.

 

“sorry, I’m late” ucap Donghae santai sambil mendudukan dirinya di single sofa yang terletak di hadapan kedua pria itu.

 

“tumben sekali kau mengajakku bertemu di jam seperti ini?” tanya laki-laki tampan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari benda tipis yang masih setia berada dalam genggamannya.

 

“kau juga, tumben sekali mau ku ajak bertemu di jam seperti ini?” balas Donghae masih dengan senyum miringnya.

 

Laki-laki tampan itu kini menatap Donghae yang sudah duduk manis dihadapannya, kemudian pria itu ikut menyunggingkan senyum miring khasnya untuk sahabat karibnya itu. “hanya sedang tidak terlalu sibuk, lagipula aku sedikit bosan bekerja di kantor” jawab laki-laki itu sambil meletakkan benda tipis dan cangkir espresso yang sejak tadi menjadi kesibukannya keatas meja. Laki-laki itu kini menyilangkan kedua kakinya, sementara tubuh kekarnya bersandar santai pada sandaran sofa.

 

“tentu saja, seorang pemilik CGI Group bisa dengan sesuka hati mengatur jam kerja dan dimana dia akan bekerja” balas Donghae dengan nada penuh sindiran. Laki-laki itu semakin menampakkan senyum lebarnya atas ucapan Donghae terhadap sikapnya yang semena-mena dalam pekerjaan.

 

“dan kau, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan Hyuk-ah?” tanya Donghae selanjutnya pada sosok laki-laki lain yang sejak tadi terlihat direpotkan dengan setumpuk kertas dipangkuannya hingga tak sempat menyapa dirinya sama sekali.

 

“Aish, tolong jangan ganggu aku, kau tak lihat kalau aku sedang bekerja” jawab Lee Hyukjae dengan nada ketus. Donghae hanya mampu tersenyum lebar menanggapi prilaku ketus salah satu sahabatnya ini.

 

“hya, Kenapa kau terlihat begitu sibuk? sedangkan bos besarmu ini terlihat sangat santai dihadapanku. Kau ingin mencari muka, eo?! Memangnya berapa gaji yang diberikan oleh seorang Choi Siwon kepadamu hingga kau bekerja segiat ini hah?” tanya Donghae dengan nada penuh ejekan.

 

“dia membayarku sangat rendah, hingga aku harus bekerja ekstra agar mampu membeli salah satu anak perusahaan milikmu” jawab Hyukjae asal yang sontak membuat Donghae dan Siwon tertawa ringan.

 

Setelah tawa keduanya reda, ada keheningan mendadak yang menyelimuti. Donghae menjadi sedikit bingung dengan apa yang akan dia bicarakan selanjutnya, karena pasalnya dia yang mengajak para sahabatnya ini bertemu untuk menghindari Park Nara.

 

“ada apa?” tanya Siwon memecah kesunyian.

 

Donghae yang mendengar pertanyaan Siwon hanya menggelengkan kepalanya pelan, “tidak ada apa-apa” jawaban yang keluar dari mulut Lee Donghae terdengar ragu-ragu.

 

“aku mengenalmu dengan baik Donghae-ya, kau tak akan secara khusus meluangkan waktu untuk mengajak kami bertemu jika tak ada masalah apapun yang terjadi, dan bisa kutebak ini tak ada hubungannya dengan pekerjaan, karena kalau ini masalah pekerjaan, kau pasti akan menemuiku langsung di kantor, bukan mengajakku bertemu di café seperti ini” tebak Choi Siwon.

 

Tebakan Siwon tepat sasaran. Donghae tau, dia tak akan pernah bisa menutupi masalahnya jika sudah berhadapan dengan dua orang sahabatnya ini. Mereka bertiga terlanjur saling mengenal cukup baik, tak akan ada hal yang mampu mereka sembunyikan satu sama lain.

 

“katakan pada kami!” desak Lee Hyukjae tak sabar.

 

Donghae masih diam. Ada perasaan ragu dihatinya untuk membagi apa yang dia rasakan saat ini kepada para sahabatnya. Dibalasnya tatapan penuh tanya kedua laki-laki dihadapannya itu dengan tatapan bingungnya. Donghae masih belum yakin dengan apa yang akan dia sampaikan saat ini.

 

“jika tak ada yang akan kau bicarakan aku akan melanjutkan pekerjaanku, saat ini aku sedang mengabaikan proyek jutaan dolar-ku hanya untuk meladeni sikap diammu” ucap Siwon kejam pada pria yang berada dihadapannya.

 

“arasso… arasso…” balas Donghae cepat menanggapi kekesalan Choi Siwon. Namun bukannya bicara, Donghae lagi-lagi terdiam.

 

Hyukjae yang mendapati kembali sikap diam Donghae, ikut mengeram kesal. “aish jinja!! Sebenarnya ada masalah apa Hae-ya?!” tanya Hyukjae frustasi dengan sikap diam sahabatnya ini.

 

“aku jenuh!”

 

“Mwo?!” ucap Siwon dan Hyukjae bersamaan, tak mengerti sama sekali maksud perkataan laki-laki dihadapannya.

 

“aku mulai merasa jenuh dengan hubungan percintaanku dan Park Nara” jelas Donghae mantap.

 

Donghae akhirnya menceritakan semua yang dia rasakan belakangan ini. Perasaan yang selalu mengganggunya. Kejenuhannya akan hubungan yang sudah dia jalin selama hampir tujuh tahun bersama kekasihnya Park Nara. Donghae sendiri tak mengerti kenapa dia bisa merasa seperti ini, kenapa dia bisa berada dalam fase terjenuh dalam hubungannya, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi ini sudah mencapai titik klimaks.

 

Donghae mulai menyadarinya beberapa minggu lalu ketika dia mulai merasa kehilangan akan segala rasa yang biasanya bersemayam didirinya. Dia tak pernah lagi merasakan sensasi debaran jantung yang meningkat pesat ketika wanita yang dicintainya itu menatapnya dengan tatapan lembut menghanyutkan.

 

Dia juga mulai kehilangan perasaan menyenangkan ketika ratusan kupu-kupu bermain di perutnya saat lengan halus milik wanitanya menyentuh dirinya. Dia mulai tak lagi merasakan keinginan yang amat sangat untuk selalu berada disamping wanitanya, dan dia juga mulai kehilangan perasaan ketika aliran darahnya mengalir lebih cepat saat melihat wanita miliknya bercengkrama akrab dengan laki-laki lain. Donghae kehilangan segala perasaan itu, dan ini membuatnya begitu resah.

 

Lee Donghae sangat mencintai kekasihnya, tak pernah ada wanita lain yang mengisi hatinya selain wanita bermarga Park itu hingga saat ini, tapi entah mengapa dia merasa rasa cintanya pada wanita itu mulai berkurang. Belakangan ini dia pun cenderung menghindari wanita yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu.

 

Saat ini, hanyalah perasaan hambar dan bosan yang mengisi relung jiwanya jika dia bersama dengan satu-satunya wanita yang berhasil menguasai hatinya.

 

“lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanya Siwon setelah mendengarkan penjelasan sahabatnya itu. Sebenarnya ada rasa tak mengerti di hati Choi Siwon, bagaimana mungkin seseorang bisa merasa bosan ataupun jenuh berada disamping orang yang dia cintai. Tapi Siwon tak mungkin mengungkapkan rasa penasarannya, dia hanya menelannya sendiri, karena dia sadar, kondisi percintaannya pun tak lebih baik dari Donghae.

 

“entahlah, aku bingung” jawab Donghae dengan tatapan kosongnya.

 

“kau sudah bicara dengan Nara?” tanya Siwon lagi pada Donghae.

 

Donghae menggeleng. “aku tak mau menyakitinya” jawab Donghae pelan.

 

“lalu kau akan terus diam seperti ini?!” Donghae terdiam, pertanyaan tajam Siwon kali ini tak mampu dijawab olehnya. “kau justru akan menyakitinya jika terus bersikap seperti ini Hae-ya” lanjut Siwon tak sabar, tak ingin melihat sahabatnya itu menjadi pecundang karena telah menyakiti hati seorang wanita, terlebih lagi Siwon kenal betul siapa itu Park Nara, dia adalah sosok wanita lembut yang tak pantas disakiti dengan cara apapun.

 

“apakah perasaan cintamu masih ada untuk Park Nara?” Siwon kembali mengajukan pertanyaan.

 

“aku masih mencintainya, hanya saja seperti yang kukatakan tadi, semuanya berubah, tak seperti dulu”

 

“kalau begitu bertahanlah!” ucap Siwon mantap, Donghae menatapnya tak mengerti.

 

“kalau kau masih mencintainya, maka bertahanlah disisinya, perbaikilah semuanya bersama-sama, sebelum semuanya menjadi benar-benar rusak” saran Siwon lembut.

 

“Kau tak akan mampu mendapatkan seorang wanita yang begitu memahami dan tetap setia berada disisimu selama hampir tujuh tahun ini seperti Park Nara, ingatlah kembali semua perjuangan dan kenangan indah yang terjadi selama hampir tujuh tahun kebersamaan kalian” lanjut Siwon tak ingin sahabatnya salah langkah dalam mengambil keputusan yang nanti akan disesalinya.

 

“tanyakanlah lagi pada lubuk hatimu, jangan selalu menggunakan logikamu sebagai seorang lelaki Hae-ya, percayalah pada apa kata hatimu” Siwon mencoba memberikan pengertian pada Donghae, benar-benar tak ingin melihat Lee Donghae melakukan kesalahan.

 

Tapi setelah mendengar nasihat Siwon, bukan kepastian yang Donghae dapat, justru keraguan semakin menyelimuti pikirannya. Benarkah semua yang dikatakan Choi Siwon, apakah perasaan cinta saja sudah cukup untuk bertahan dan melanjutkan semuanya.

 

Masalahnya, sampai selama hampir tujuh tahun ini Donghae selalu mengandalkan perasaan cintanya, tapi sekarang apa yang dia dapat, sebuah perasaan jenuh yang amat sangat. Dan jika dia hanya terus mengandalkan perasaan itu, bagaimana untuk kedepannya, tahun-tahun selanjutnya yang akan terus dia jalani bersama wanita yang dia cintai ini. Sungguh Donghae tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

 

“Donghae-ya, Jangan dengarkan omongan pria ini!” ucap Hyukjae cukup tegas sambil mengarahkan telunjuknya pada Choi Siwon, ucapan Lee Hyukjae barusan sontak membuat Donghae tersadar dari lamunan singkatnya. Sementara itu, Siwon hanya menatap tak mengerti PA sekaligus sahabat karibnya ini.

 

“kau mendengarkan nasihat dari orang yang salah Donghae-ya” ucap Hyukjae selanjutnya. “pria melankolis ini bahkan bermasalah dengan kisah cintanya sendiri” lanjut Lee Hyukjae masih tetap mengarahkan telunjuknya pada atasannya itu, “kau mau mempercayai ucapan pria yang selalu terjebak pada wanita yang sama padahal jelas-jelas wanita itu sering mengkhianatinya, eo?” tanya Hyukjae pada Donghae yang jelas-jelas menyindir telak Choi Siwon.

 

“HYA! Kau sudah bosan bekerja denganku, eo?!” ucap Siwon penuh emosi, tak terima drama percintaannya dibawa-bawa kedalam obrolan mereka saat ini.

 

“tapi itu benarkan?! Kau selalu terjebak dalam pelukan Kim Raya padahal wanita itu sudah berkali-kali mengkhianatimu” tantang Hyukjae tak peduli, “Aku hanya bicara sesuai fakta!” Hyukjae sudah melupakan sopan-santunnya kepada sang atasan. Sementara Siwon hanya menahan kesal menerima ucapan sesuai kenyataan yang dikemukakan oleh Lee Hyukjae.

 

“dengarkan aku Donghae-ya” lanjut Hyukjae tak peduli pada tatapan tajam Choi Siwon yang masih mengarah padanya.

 

“apa benar perasaan yang masih kau rasakan terhadap Park Nara adalah perasaan cinta?” Donghae menatap Hyukjae dengan pandangan bingung, dia memutuskan untuk tak menjawabnya dan hanya menunggu perkataan Lee Hyukjae selanjutnya.

 

“jika benar itu adalah perasaan cinta, maka kau tak akan repot-repot berbicara dengan kami saat ini, kau tak akan dipusingkan dengan rasa jenuh yang menghantuimu, karena perasaan cintamu itu yang akan memberi jalan keluarnya” ucapan Hyukjae entah kenapa lebih terdengar masuk akal ditelinga Donghae saat ini.

 

“yakini perasaanmu!” ucap Hyukjae dalam.

 

“jika itu bukan rasa cinta dan jenuh selalu meliputimu, maka akhirilah! untuk apa kau pertahankan hubunganmu?!” ujar Hyukjae tegas, “Jangan karena kau merasa hubungan itu sudah terlanjur terjalin sangat lama, lalu kau merasa sangat sayang jika hubungan itu berakhir begitu saja dan kau merasa semua pengorbanan yang kau lakukan selama ini menjadi sia-sia jika hubungan kalian berakhir, maka itu bukan cinta namanya, itu jual-beli, untung-rugi, itu rasa kasihan! Kau akan semakin melukai Park Nara jika kau bertahan terus disisinya karena perasaan itu” tutur Hyukjae memberi jalan keluar.

 

Dan jujur saja, pembicaraan saat ini menambah pusing dan penat di kepala Lee Donghae. Pendapat kedua sahabatnya yang bertolak belakang itu membuatnya semakin tak tau dengan apa yang akan dia lakukan. Ini membuatnya semakin tak mampu untuk berpikir.

 

Namun Lee Donghae sadar, dia harus segera mengambil keputusan, dia tak mungkin terus membiarkan kekasihnya menjadi korban keegoisan akan perasaannya sendiri.

 

-Surfeited-

 

Maaf ku jenuh padamu

Lama sudah kupendam Tertahan dibibirku.

 

 

Sudah lebih dari dua minggu ini Nara dipusingkan oleh permintaan para investor, isi perjanjian yang kurang menguntungkan bagi perusahaan tempatnya bekerja, membuat Park Nara harus mengeluarkan seluruh kemampuan negosiasinya, dan hal ini sering membuat Nara sakit kepala.

 

Selain itu, hal ini juga menyebabkan Nara tidak mempunyai waktu luang yang bisa dia habiskan bersama kekasihnya, Lee Donghae. Mereka hanya bertemu di kantor, itupun hanya pada waktu rapat dan mendiskusikan hasil laporan. Selebihnya, mereka berdua tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Waktu senggang di malam hari yang biasanya mereka gunakan untuk sekedar bertemu, mengobrol dan makan malam bersama pun semakin tak ada, kesibukan Lee Donghae memperparah kondisi ini.

 

Sebenarnya hal ini sering terjadi, biasanya hanya pesan-pesan singkat atau sekedar telepon menanyakan kabar yang mereka lakukan. Tapi sekarang entah mengapa Park Nara merasakan ada yang berbeda. Mereka masih sering mengirim pesan singkat, memang selalu Park Nara yang memulainya. Biasanya Nara hanya menanyakan hal-hal sepele, mulai dari mengingatkan kekasihnya untuk makan hingga mengucapkan selamat tidur.

 

Lee Donghae pun selalu membalas pesan yang dikirimkan kekasihnya itu. Tapi entah mengapa saat ini Nara merasakan ada sesuatu yang lain, ada sesuatu yang berbeda. Nara ingin sekali mengkonfirmasikan apa yang tengah dia rasakan saat ini kepada kekasihnya, namun entah mengapa ada sedikit ketakutan yang bermain dihatinya.

 

Jumat malam ini Nara sengaja menunda semua pekerjaannya yang belum selesai, Nara mengundang kekasihnya untuk makan malam di apartmentnya. Karena Jujur saja Nara sangat merindukan sosok kekasihnya itu. Nara begitu merindukan pelukan hangat Lee donghae, dia merindukan harum tubuh kekasihnya yang menenangkan yang sudah seperti candu tersendiri baginya. Nara juga merindukan hangat nafas Lee Donghae yang berhembus dipori-pori kepalanya saat kekasihnya itu mendekap protektif tubuhnya. Nara teramat merindukan setiap bagian tubuhnya berada dalam dekapan milik prianya.

 

Malam ini Park Nara mengenakan dress satin broken white yang menutupi hingga bagian lututnya dengan atasan tali spageti. Dress itu jatuh sempurna ditubuh jenjang Park Nara dan membuat Nara terlihat semakin cantik. Nara juga memoleskan sedikit make up agar wajahnya terlihat lebih cerah. Walaupun hanya dinner dirumah, entah mengapa Nara ingin tetap terlihat menawan didepan kekasihnya nanti.

 

Tak lama terdengar suara bel apartmentnya berbunyi, Nara yang sudah tau pasti jika itu kekasihnya, langsung membukakan pintu apartmentnya tanpa melihat lebih dulu siapa orang yang berada dibalik pintu tersebut. Dan benar saja, begitu Nara membuka pintu apartmentnya, Nara melihat sosok kekasihnya Lee Donghae berdiri tegap di depan pintunya.

 

Donghae terlihat sangat tampan dalam balutan Zegna casual suit berwarna putih gading. Ditambah dengan gaya berdirinya yang memasukkan kedua tanggannya kedalam saku celana, membuat Donghae semakin terlihat menjadi sosok yang sempurna tak bercela.

 

Sudah hampir tujuh tahun Nara menjadi kekasihnya, tapi sampai sekarang Nara masih sering terjatuh kedalam pesona yang disuguhkan Lee Donghae. Sampai saat ini sosok Donghae masih mampu membuat Park Nara merasa kesulitan bernafas ketika dia berada didekatnya, dan jantung Nara pun berdetak lebih cepat jika kekasihnya itu menatapnya tanpa jeda.

 

Nara memiringkan tubuhnya agar sosok tinggi Lee Donghae bisa memasuki kediamannya. Setelah menutup pintu apartmentnya, Nara memeluk tubuh Lee Donghae erat seperti yang biasa dia lakukan, Nara menyesap wangi tubuh kekasihnya yang begitu dia rindukan, Donghae pun membalas pelukan erat wanitanya itu sambil mengecup puncak kepala wanita yang dicintainya, menghirup aroma lavender yang keluar dari rambut panjang milik wanitanya, Park Nara menikmati semua perlakuan hangat Lee Donghae, tapi entah mengapa didasar hatinya Nara merasakan ada yang tak biasa.

 

“kau mengganti parfummu?” tanya Nara setelah menghirup aroma yang berbeda dari tubuh milik prianya, ada wangi rempah dan mint yang mendominasi, Nara mengenali wangi ini, Escada Magnetism, parfum yang dulu digunakan Lee Donghae sebelum Nara menggantinya dengan wangi kayu dan bunga segar kesukaannya.

 

“benarkah?” tanya Donghae balik sambil mengerutkan keningnya.

 

“kau bahkan tidak sadar kau tidak menggunakan parfum yang biasa kau gunakan” parfum yang kupilihkan, parfum yang kusukai, tambah Nara dalam hati.

 

“aku hanya mengambil sembarangan dari atas meja, mungkin aku mengambil botol yang salah, It’s not a big deal, lagi pula wanginya enak” ucap Donghae sambil mengendus wangi tubuhnya sendiri. “sepertinya aku lebih menyukai wangi ini dari pada yang biasanya” tambah Donghae lagi.

 

Tapi entah mengapa muncul firasat aneh dalam hati Park Nara, ini bukan hanya sekedar masalah parfum, tapi ini seperti sebuah pertanda bagi Nara. Nara mencoba menepis pikiran buruk dalam kepalanya, mungkin karena terlalu lelah Nara jadi memikirkan banyak hal yang tidak-tidak.

 

Donghae melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, meninggalkan Park Nara yang masih gelisah dengan pikirannya. Donghae mendudukan dirinya di single sofa, disusul oleh Nara yang memilih duduk di sofa yang terletak di sebelahnya. Posisi mereka kini saling berdampingan walau tak berada dalam satu sofa.

 

Donghae mengeluarkan ponsel tipisnya, terlihat sibuk mengetik sesuatu, Nara mengamati wajah kekasihnya itu, terlihat sesekali pria itu tersenyum senang sambil tetap mengarahkan pandangan pada ponsel tipisnya. Sebenarnya Nara ingin sekali mengajak kekasihnya itu mengobrol tapi Nara mengurungkan niatnya, wanita itu takut mengganggu kesenangan yang sedang dilakukan prianya.

 

“kau sudah makan malam? Aku membuat lasagna” tawar Nara sambil beranjak dari sofa dan melangkahkan kakinya menuju dapur, sebenarnya Nara sedang mencoba mengalihkan perhatian Lee Donghae dari kesibukan dengan ponselnya dengan tawaran makan malam.

 

Karena biasanya ketika mereka sedang bersama, sebisa mungkin Donghae akan meminimalisir hal-hal yang akan menggangu kebersamaan mereka, biasanya dia akan meletakkan ponsel miliknya di saku dalam jas atau meninggalkannya diruang tamu, atau bahkan Donghae sering mematikan benda tipisnya itu, tapi kali ini semua yang dilakukan pria itu diluar kebiasaannya, dan ini membuat Park Nara merasa semakin khawatir.

 

Donghae akhirnya beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti wanitanya menuju dapur. “sepertinya enak” ucap Donghae sambil menarik sebuah kursi meja makan.

 

Nara menaruh seporsi lasagna di depan Lee Donghae, kemudian dia ikut duduk dihadapan prianya itu. Nara memperhatikan semua gerak-gerik Donghae yang meletakkan ponselnya di atas meja makan sambil mengambil sendok kemudian mencicipi lasagna buatannya.

 

“bagaimana rasanya?” tanya Nara sedikit penasaran.

 

“enak, as always” jawab Donghae sambil menyunggingkan senyum tulusnya. Ujur saja Nara sangat merindukan senyuman itu. Kenyataan bahwa senyuman itu masih ada untuk dirinya, membuat Nara sedikit merasa lega.

 

Mereka berdua makan dengan tenang, yang terdengar hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Sebenarnya Nara ingin sekali mengobrol banyak hal dengan Donghae, Nara ingin menyalurkan rasa rindunya dengan bercengkrama dengan kekasihnya itu, tapi pria dihadapannya terlihat begitu nyaman dengan keheningan yang tercipta, dan ini membuat Nara tak ingin mengganggunya.

 

Sambil menikmati hidangannya, Donghae terlihat sesekali membalas pesan di ponselnya. Jujur saja Nara merasa amat terganggu melihat perhatian kekasihnya yang selalu tertuju pada benda tipis itu. Nara bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa sebenarnya yang sedang berkomunikasi dengan kekasihnya saat ini.

 

“kau terlihat sibuk sekali sejak tadi, kau berkirim pesan dengan siapa memangnya?” tanya Nara lembut namun terlihat sekali rasa penasaran menyelimuti pertanyaannya.

 

“aniya… hanya dengan Eunhyuk” jawab Donghae santai.

 

“Eunhyuk? Tumben, ada apa?” tanya Nara heran.

 

“dia dan yang lain sedang berada di club saat ini, mereka menginginkan aku datang “ jawab Donghae to the point.

 

“kau ingin datang?” tanya Nara langsung, namun sebenarnya Nara sedang ingin memastikan sesuatu yang lain.

 

“bolehkah??”

 

 

****

 

Makasih udah baca, dan mian kalo kisahnya gak jelas, tunggu part 2nya ya… *bow*

12 thoughts on “Surfeited (Almost Seven Years) part 1

  1. Jenuh….
    Alasan klasik tp memang sering terjadi dalam berbagai hal.
    Huftttr…. buat donghae menyadarinya. Bahwa sikapnya menyakiti kekasihnya

    • yup… alasan klasik tapi selalu terjadi dan rasanya gak enak banget (curcol)

      liat aja nanti apa yang akan saya lakukan sama Donghae muahahahaha *evil’s laugh

      thanks for reading 🙂

  2. Emg sih klo aku akuin klo dalam suatu hubungan awalnya flat pasti titik jenuh itu akan muncul tapi yg aku gak suka dari sikap donghae dia gak jujur apa yg dia rasain ke nara dan jadinya bisa salah paham hufffttt 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s